Bandar Lampung — Sepanjang Januari hingga Desember 2025, Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung mencatat 333 kasus baru HIV dari hasil skrining terhadap 35.698 warga. Angka tersebut setara 0,9 persen dari total pemeriksaan dan menjadi pengingat pentingnya deteksi dini serta edukasi berkelanjutan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung, menjelaskan bahwa capaian skrining tahun 2025 bahkan melampaui target Kementerian Kesehatan yang ditetapkan sebanyak 30.108 orang.
“Realisasi kita mencapai 115 persen. Ini menunjukkan kesadaran pemeriksaan mulai tumbuh,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Skrining difokuskan pada kelompok Sasaran Pelayanan Minimal (SPM), seperti ibu hamil, penderita tuberkulosis (TBC), infeksi menular seksual (IMS), populasi berisiko, hingga warga binaan pemasyarakatan. Pemeriksaan pada ibu hamil menjadi prioritas sebagai langkah mencegah penularan dari ibu ke bayi.
Bagi warga yang dinyatakan positif, pemerintah langsung memberikan terapi antiretroviral (ARV). Meski belum menyembuhkan, terapi ini efektif menekan perkembangan virus sehingga pasien tetap dapat hidup sehat dan produktif serta meminimalkan risiko penularan.
Saat ini, layanan pengobatan HIV tersedia di 31 puskesmas di Kota Bandar Lampung. Dinkes juga menggandeng berbagai komunitas untuk memperkuat edukasi, penyuluhan, dan pendampingan agar masyarakat tidak takut memeriksakan diri.
Muhtadi menegaskan, penanggulangan HIV bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.
“Semakin cepat terdeteksi, semakin baik kualitas hidup pasien. Jangan takut periksa, karena dukungan dan pengobatan tersedia,” tandasnya.(Wanda)






