Bandar Lampung — Ramadan telah berlalu, meninggalkan jejak-jejak kebaikan yang sempat tumbuh dalam diri. Namun, bagi umat Muslim, perjalanan itu sejatinya belum selesai. Justru setelah bulan suci berakhir, ujian sesungguhnya dimulai: mampukah kebaikan itu tetap dijaga?
Ketua Majelis Ulama Indonesia Lampung, M. Mukri, mengingatkan agar umat tidak hanya menjadikan Ramadan sebagai momen sementara, tetapi sebagai titik awal perubahan yang berkelanjutan.
“Keberhasilan puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi bagaimana kita mampu menjaga amal kebaikan setelah Ramadan,” ujarnya, Minggu (22/3/2026).
Di tengah suasana Lebaran yang penuh kegembiraan, ia mengingatkan agar umat tidak larut dalam euforia berlebihan hingga melupakan esensi ibadah yang telah dijalani selama sebulan penuh.
Menurutnya, tanda puasa yang berhasil adalah ketika rasa empati dan kepedulian sosial tetap hidup, bahkan setelah Ramadan pergi. Sebaliknya, jika tidak ada perubahan dalam sikap dan perilaku, maka puasa perlu menjadi bahan renungan.
“Jangan sampai puasa hanya meninggalkan lapar dan dahaga, tanpa membawa perubahan dalam diri,” katanya.
Lebih dari itu, ia menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa—pribadi yang taat kepada Allah SWT dan memberi manfaat bagi sesama.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal itu bisa dimulai dari hal sederhana: menjaga sikap, menahan diri, dan tidak merugikan orang lain.
“Kalau belum bisa banyak membantu, setidaknya jangan menyusahkan orang lain,” pesannya.
Di ujung Ramadan, pesan itu terasa sederhana, namun dalam maknanya: bahwa kebaikan sejati bukan hanya tentang satu bulan, melainkan tentang bagaimana ia terus hidup di hari-hari setelahnya.(**)

Baca Juga  Senyum Ramadan di Simpang Way Halim, Alumni Untirta Bagikan Ratusan Takjil

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan