LAMPUNG SELATAN — Pagi di UPTD Pelayanan Sosial Asuhan Anak (PSAA) Harapan Bangsa, Kalianda, Lampung Selatan, tidak hanya diisi aktivitas pengasuhan.

Di lingkungan panti yang dikelola Dinas Sosial Provinsi Lampung itu, lahan menjadi ruang belajar. Sampah organik tidak sekadar dibuang. Sisa-sisa yang biasanya dianggap tidak berguna diolah menjadi kompos dan pupuk organik.

Dari sana, tanaman tumbuh.
Namun yang hendak dipanen bukan hanya hasil pertanian.

Ada sesuatu yang lebih penting: kemandirian anak-anak yang diasuh di dalamnya.

Konsep itulah yang tengah dikembangkan UPTD PSAA Harapan Bangsa melalui Bee Edu Social Integrated Farming, sebuah pendekatan yang memadukan pengasuhan, pendidikan sosial, pertanian, pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi.

Baca Juga  Bupati dan Wakil Bupati Tulang Bawang Barat Resmi Dilantik, Siap Jalankan Amanah

Kepala UPTD PSAA Harapan Bangsa Dinas Sosial Provinsi Lampung, Drs. Koharuddin, MM, mengatakan pertanian terpadu sengaja dikembangkan agar lingkungan panti tidak berhenti sebagai tempat tinggal bagi anak asuh.

“Tidak ada limbah atau sampah yang dibakar. Semuanya kita manfaatkan menjadi kompos dan pupuk organik,” ujar Koharuddin, Kamis (3/9/2026).

Bagi Koharuddin, setiap aktivitas di lingkungan panti dapat menjadi pelajaran.

Anak-anak tidak hanya belajar dari buku atau ruang kelas. Mereka juga belajar dari tanah, tanaman, sampah organik, proses produksi hingga bagaimana sesuatu yang sederhana dapat memiliki nilai ekonomi.

Di lahan panti, anak asuh diperkenalkan pada proses bercocok tanam sekaligus memahami bagaimana sebuah kegiatan produktif dapat dikelola.

Baca Juga  Ketua PPS Tanjung Baru Diduga 'Sunat' Anggaran Anggota KPPS Capai Puluhan Juta

Mereka belajar bahwa untuk menghasilkan sesuatu dibutuhkan proses. Ada kedisiplinan untuk merawat, kesabaran untuk menunggu dan tanggung jawab untuk memastikan apa yang ditanam dapat tumbuh.

Di situlah pertanian ditempatkan sebagai laboratorium kehidupan.

Salah satu prinsip yang menjadi bagian penting dari konsep tersebut adalah mengubah limbah menjadi sumber daya.

Sampah organik dikumpulkan, diolah dan dimanfaatkan menjadi kompos maupun pupuk organik. Hasilnya kemudian dapat kembali digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian.

Siklus sederhana itu mengajarkan satu hal penting kepada anak-anak: sesuatu yang dianggap tidak berguna belum tentu benar-benar tidak bernilai.

Pelajaran tersebut bukan hanya tentang lingkungan.

Lebih jauh, anak asuh diperkenalkan pada cara berpikir produktif. Bagaimana melihat potensi di sekitar, mengolahnya dan menciptakan sesuatu yang memiliki manfaat.

Baca Juga  Diserbu Warga di Pantai, Mustafa Uji Daya Tarik Politik?

Konsep itu juga melibatkan karyawan panti serta masyarakat sekitar. Dengan demikian, kegiatan pertanian tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan.

Koharuddin mengatakan program tersebut diarahkan untuk membangun kemandirian dan ketahanan pangan anak asuh.

“Ini menjadi sarana belajar dan latihan bagi anak asuh untuk kemandirian dan ketahanan pangan,” katanya.

UPTD PSAA Harapan Bangsa menempatkan sejumlah pilar dalam pengembangannya, mulai dari pengasuhan holistik berbasis usia, pembentukan karakter, kemandirian, kreativitas dan inovasi, pendidikan sosial terpadu hingga implementasi dan evaluasi berkelanjutan.(Red)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan