Bandar Lampung — Suasana di Balai Keratun, Kantor Gubernur Lampung, Selasa (15/7/2025), pagi itu tak seperti biasanya. Deretan kursi donor darah berjajar rapi, dipenuhi ASN, anggota organisasi perempuan, hingga warga biasa. Suara jarum suntik yang menembus kulit tak terdengar menakutkan—yang ada hanya senyum lega dan rasa bangga bisa membantu sesama.

Hari itu, Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) PWI Lampung merayakan Hari Ulang Tahun ke-64 bukan dengan seremoni meriah, melainkan dengan aksi sosial: donor darah, cek kesehatan gratis, dan diskusi serius tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Yenni Puspa Sari, Ketua IKWI Lampung, terlihat sibuk mondar-mandir menyapa peserta. Namun di sela kesibukan itu, ia sempat duduk sejenak untuk berbincang.

“Kami ingin ulang tahun ini tidak hanya jadi acara internal keluarga wartawan. Kami ingin benar-benar bermanfaat. Donor darah ini wujud kontribusi kami,” katanya, matanya berbinar.

Antusiasme peserta begitu terasa. Rini (35), seorang ibu rumah tangga, mengaku sempat deg-degan tapi akhirnya lega usai mendonorkan darah.

“Awalnya takut jarum. Tapi ternyata malah senang. Bisa bantu orang yang butuh darah. Rasanya juga lebih dekat dengan teman-teman wartawan, dan makin peduli sama isu seperti KDRT,” ujarnya sambil tersenyum malu.

Tak hanya donor darah, di ruangan lain diskusi publik tentang KDRT digelar serius namun hangat. Angka KDRT memang masih tinggi. Data DPR RI mencatat 19.045 kasus sepanjang 2024. Di Lampung saja pada awal 2024 sudah tercatat 422 kasus.

“Angka yang sangat memprihatinkan,” tegas Yenni saat membuka diskusi.

Dua narasumber diundang yakni Tri Apriliani, S.Psi, dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Lampung, dan dr. Tendry Septa, Sp.KJ(K), psikiater dari RS Jiwa Lampung.

Baca Juga  Komisi I DPRD Bandar Lampung Sidak Pembangunan Living Plaza

Mereka bergantian menjelaskan betapa dalam luka psikologis korban KDRT. Bukan hanya lebam di kulit, tapi trauma yang membekas lama.

“Kita perlu pencegahan dari akar. Pendidikan keluarga, keterampilan mengelola emosi, sistem dukungan sosial,” ujar dr. Tendry dengan suara pelan tapi tegas.

Para peserta, kebanyakan ibu-ibu, tampak serius mendengarkan. Beberapa mencatat. Yang lain tampak mengangguk-angguk, seperti meresapi betul bahwa topik ini bukan sekadar teori.

Di luar ruangan diskusi, kantong-kantong darah menumpuk di dalam boks pendingin, menunggu diantar ke Unit Donor Darah PMI. IKWI Lampung menargetkan puluhan kantong darah bisa terkumpul hari itu.

Rangkaian acara HUT ke-64 ini tak berhenti di Balai Keratun. Akan ada bakti sosial dan kunjungan ke panti asuhan. Semua demi satu tujuan: agar ulang tahun IKWI bukan sekadar perayaan, tapi warisan kebaikan bagi orang banyak.

“Kami wartawan, tapi juga bagian dari masyarakat. Kami ingin memberi, tidak hanya menulis,” kata Yenni menutup obrolan dengan lirih.

Hari pun beranjak siang. Beberapa peserta donor sudah pulang dengan perban putih menempel di lipatan siku—lencana kecil kepedulian yang mereka banggakan.(**)

Baca Juga  Gubernur Mirza Ajak Mahasiswa Unila Jadi Generasi Emas Penentu Kemajuan Bangsa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan