BANDAR LAMPUNG — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bandar Lampung masih menyisakan pekerjaan rumah di balik ribuan porsi makanan yang setiap hari diproduksi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Hingga September 2026, sebanyak 139 dari 152 SPPG di Kota Bandar Lampung disebut telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Artinya, masih ada dapur yang belum menyelesaikan proses sertifikasi tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung Muhtadi Arsyad Tumenggung mengatakan, dari 152 SPPG, sekitar 142 dapur MBG telah mengajukan SLHS.
“Yang baru mengajukan itu sekitar 142 dapur MBG, sisanya belum mengajukan,” kata Muhtadi di Bandar Lampung, Senin (22/9/2026).
Persoalannya bukan hanya soal bangunan dan kelengkapan dapur. Orang-orang yang berada di balik kompor juga menjadi bagian penting dalam rantai keamanan pangan.
Data Dinas Kesehatan menunjukkan, sebanyak 4.112 penjamah pangan telah lulus pelatihan standar kesehatan dan higiene. Namun jumlah tersebut baru sekitar dua pertiga dari 6.063 penjamah pangan yang terdata di seluruh SPPG.
Dengan demikian, masih terdapat 1.951 penjamah pangan yang belum tercatat lulus pelatihan.
Di sisi lain, sebanyak 140 dapur SPPG disebut telah lulus verifikasi Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL), berdasarkan integrasi data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan dengan portal Badan Gizi Nasional (BGN).
Angka-angka itu memperlihatkan bahwa mengejar standar MBG bukan semata urusan mengecat dapur, menata peralatan, atau mengejar selembar sertifikat. Ada ribuan orang yang tangannya bersentuhan langsung dengan bahan makanan yang akan dikonsumsi masyarakat penerima manfaat.
Muhtadi mengatakan pelatihan bagi penjamah pangan diperlukan untuk mengurangi risiko kontaminasi makanan sekaligus memastikan makanan yang diproduksi memenuhi standar keamanan dan gizi.
Pemerintah Kota Bandar Lampung, kata dia, akan terus mendampingi SPPG yang masih berproses memperoleh SLHS.
Pelatihan bagi penjamah pangan yang belum tersertifikasi juga akan diperluas.
Sebab, dalam program makan gratis yang menyasar masyarakat luas, keamanan pangan bukan hanya perkara berapa banyak porsi yang berhasil dibagikan. Ia bermula dari dapur, berlanjut ke tangan penjamah pangan, dan berakhir di meja makan penerima manfaat.(nda)






