BANDAR LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat langkah antisipasi menghadapi fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai puncaknya pada September 2026. Berbagai upaya mitigasi disiapkan untuk meminimalkan dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian, ketersediaan air bersih, serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, Rudy Syawal, mengatakan berdasarkan analisis hidrometeorologi, fase awal El Nino mulai dirasakan sejak Juni 2026 dengan tren penurunan curah hujan di sejumlah wilayah.
Menurut Rudy, kondisi tersebut menjadi perhatian karena Lampung merupakan salah satu lumbung pangan nasional. Berkurangnya curah hujan berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian, ketersediaan air bersih, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Sebagai bagian dari langkah kesiapsiagaan, BPBD terus memantau perkembangan titik panas (hotspot) di berbagai daerah. Berdasarkan data NASA FIRMS per 3 Agustus 2026, sejumlah hotspot terpantau di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung Tengah, Way Kanan, Mesuji, Lampung Timur, Pesisir Barat, Tanggamus, Pesawaran, Lampung Utara, Tulang Bawang Barat, hingga Pringsewu. Meski demikian, seluruh titik yang terdeteksi masih berada pada kategori rendah hingga sedang.
“Hotspot yang muncul menjadi peringatan dini agar langkah pencegahan dapat dilakukan lebih cepat sebelum berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan,” ujar Rudy.
BPBD juga mencatat mulai adanya penurunan debit air di sejumlah wilayah. Untuk membantu masyarakat, pemerintah bersama kabupaten/kota terus mendistribusikan bantuan air bersih ke daerah yang mulai terdampak kekeringan.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Lampung mengusulkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu strategi meningkatkan peluang hujan selama musim kemarau. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga ketersediaan air, mendukung sektor pertanian, serta mengurangi risiko kekeringan berkepanjangan.
Koordinasi juga terus dilakukan dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung dan instansi terkait untuk memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.
BPBD mengimbau masyarakat ikut berperan dalam upaya mitigasi dengan tidak membuka lahan menggunakan api, tidak membakar sampah di ruang terbuka, serta menggunakan air secara bijak. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci agar dampak El Nino dapat ditekan semaksimal mungkin.
Dengan berbagai langkah antisipasi yang telah disiapkan, Pemerintah Provinsi Lampung optimistis mampu menjaga ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, dan meminimalkan potensi bencana selama menghadapi puncak fenomena El Nino tahun ini.(Red)





