Bandar Lampung-
Di tengah duka akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, secercah harapan datang dari Gerakan Pramuka Lampung. Melalui gerakan Bumbung Kemanusiaan, solidaritas tumbuh dari barisan pramuka, mitra organisasi, hingga masyarakat luas.
Selama satu bulan penuh, sejak 2 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026, kepedulian itu dikumpulkan sedikit demi sedikit. Hasilnya tak sekadar simbolik. Dana kemanusiaan sebesar Rp432.917.626 berhasil dihimpun untuk membantu meringankan beban warga terdampak banjir.
Apresiasi atas gerakan kemanusiaan tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela, yang juga menjabat sebagai Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Lampung, dalam sebuah kegiatan di Gedung Graha Bakti Pramuka, Bandar Lampung, Jumat (9/1/2026).
Di hadapan para peserta, Jihan menekankan bahwa nilai utama dari gerakan ini bukan semata pada besarnya angka donasi, melainkan ketulusan dan semangat gotong royong yang menyertainya.
“Saya tidak melihat dari nilai rupiahnya, tetapi dari ketulusan kakak-kakak sekalian yang ikut berdonasi. Dari situlah lahir kekuatan solidaritas yang luar biasa,” ujar Jihan.
Menurutnya, gerakan Bumbung Kemanusiaan merupakan pengejawantahan nyata dari nilai Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka—tentang pengabdian, kepedulian, dan keberpihakan kepada sesama, terutama saat bencana datang tanpa aba-aba.
Dana yang terkumpul kemudian disalurkan melalui Kwartir Nasional Gerakan Pramuka serta Kwartir Daerah di wilayah Sumatera yang terdampak banjir, agar bantuan dapat tepat sasaran dan segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Lebih dari sekadar penyaluran bantuan, Jihan berharap gerakan ini menjadi pengingat bahwa Pramuka bukan hanya tentang seragam dan upacara, tetapi tentang kehadiran nyata di saat masyarakat membutuhkan.
“Saya berharap konsistensi dan kekompakan dalam visi kemanusiaan ini terus terjaga, dan dana yang terkumpul benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak,” pungkasnya.
Di tengah derasnya air banjir yang merusak, kepedulian yang mengalir dari Lampung menjadi penegas bahwa semangat kemanusiaan masih kokoh berdiri—dan Pramuka memilih untuk berada di barisan terdepan.(**)




