Bandar Lampung — Pagi itu, antrean di salah satu layanan pembayaran pajak kendaraan terlihat lebih ramai dari biasanya. Warga datang dengan berkas di tangan, sebagian duduk menunggu giliran, sebagian lain berbincang ringan sambil berharap proses berjalan cepat.
Bagi mereka, membayar pajak bukan sekadar kewajiban administratif. Ada harapan sederhana yang ikut diselipkan jalan yang lebih baik, pelayanan publik yang lebih layak, dan pembangunan yang bisa dirasakan.
“Saya selalu usahakan tepat waktu bayar pajak. Ya, semoga hasilnya kembali ke masyarakat,” ujar Andi, seorang warga yang tengah mengurus Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).
Namun di balik kepatuhan warga itu, Badan Pendapatan Daerah Lampung tengah menghadapi pekerjaan besar: membenahi sistem yang selama ini dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan zaman.
Kepala Bapenda Lampung, Saipul, mengakui bahwa potensi pajak daerah masih belum tergarap maksimal. Bukan semata karena rendahnya kesadaran masyarakat, melainkan juga karena sistem yang belum sepenuhnya modern dan data yang belum terintegrasi dengan baik.
Di sejumlah wilayah, akses layanan masih menjadi tantangan. Jarak yang jauh, keterbatasan infrastruktur, hingga sistem yang belum sepenuhnya digital membuat sebagian warga harus mengorbankan waktu lebih untuk memenuhi kewajiban mereka.
“Digitalisasi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan,” ujarnya.
Langkah menuju digitalisasi pun mulai dilakukan. Integrasi data antar daerah diperkuat, sistem pelayanan diperbarui, dan upaya meminimalkan kebocoran penerimaan terus dikejar. Namun proses ini tidak sederhana.
Di balik layar, ada persoalan lama yang harus dibereskan: data yang tidak sinkron, koordinasi lintas wilayah yang belum optimal, hingga kesiapan infrastruktur teknologi yang berbeda-beda di setiap daerah.
Bagi warga, perubahan mungkin belum sepenuhnya terasa. Namun harapan itu tetap ada.
Seperti Andi, yang berharap ke depan proses pembayaran pajak bisa lebih mudah dan cepat. “Kalau bisa online semua, jadi tidak perlu antre lama,” katanya.
Di tengah upaya pembenahan itu, hubungan antara warga dan pemerintah diuji oleh satu hal penting: kepercayaan. Warga sudah menunjukkan kepatuhan. Kini, giliran sistem yang harus mampu menjawabnya.
Sebab pada akhirnya, pajak bukan sekadar angka dalam laporan keuangan daerah. Ia adalah jembatan antara harapan warga dan tanggung jawab pemerintah—yang harus dijaga, diperbaiki, dan dibuktikan setiap hari.




