BANDAR LAMPUNG – Dukungan warga terus mengalir untuk operasional Viper Cafe, Bar, dan Resto di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras. Di tengah isu miring yang ramai beredar di media sosial, masyarakat sekitar justru menilai keberadaan tempat usaha tersebut membawa dampak positif bagi lingkungan, terutama dalam membantu perekonomian warga.
Bagi sebagian warga Sukaraja, Viper bukan sekadar tempat hiburan malam. Kehadirannya dianggap membuka peluang kerja bagi anak-anak muda yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Komarah, warga asli Sukaraja, mengaku tidak pernah merasa terganggu dengan aktivitas operasional Viper. Ia bahkan merasa bersyukur karena usaha tersebut ikut menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
“Alhamdulillah kami justru terbantu dan senang dengan adanya Viper ini. Saya tidak merasa terganggu sama sekali, tidur juga nyaman dan tidak ada masalah,” ujar Komarah, Rabu (27/5/2026).
Hal serupa disampaikan Sanah. Meski operasional Viper berlangsung hingga dini hari, dirinya mengaku tetap dapat beristirahat dengan nyaman tanpa terganggu kebisingan.
“Tidur mah tidur aja, enggak ada masalah dan enggak dengar suara apa pun,” katanya.
Dukungan juga datang dari Doni, warga RT 17 Sukaraja. Ia menilai Viper telah memberikan manfaat nyata dengan merekrut banyak pemuda setempat untuk bekerja.
“Banyak sekali pemuda sini yang bekerja di Viper, jadi tidak ada lagi yang menganggur di lingkungan kami. Teman saya sendiri, Komarudin, yang tadinya menganggur lama, sekarang sudah punya pekerjaan tetap di sana,” ungkap Doni.
Menurutnya, isu kebisingan yang sempat viral tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan. Sebagai warga yang tinggal di sekitar lokasi, Doni memastikan aktivitas Viper tidak mengganggu kenyamanan masyarakat.
“Enggak benar itu isu bising. Saya asli orang sini dan tidak merasa terganggu sama sekali,” tegasnya.
Sementara itu, manajemen Viper memastikan tetap terbuka terhadap berbagai masukan dari masyarakat. Legal Officer Viper, Puja Suut, mengatakan pihaknya terus melakukan evaluasi agar aktivitas usaha dapat berjalan harmonis dengan lingkungan sekitar.
“Kami langsung mengambil langkah antisipasi, salah satunya membangun tembok pembatas setinggi 20 meter untuk meredam suara. Target kami jelas, yaitu zero komplain, agar kegiatan usaha dan kehidupan sosial masyarakat bisa berjalan berdampingan tanpa gesekan,” ujar Puja.
Di mata warga Sukaraja, keberadaan Viper kini bukan hanya tentang hiburan malam, tetapi juga menjadi ruang penghidupan baru bagi masyarakat sekitar yang berharap ekonomi keluarga mereka terus bergerak di tengah sulitnya lapangan pekerjaan.(**)





