Bandar Lampung-
Di sebuah sudut Tanjungkarang pada 19 Oktober 1974, lahirlah seorang anak dari keluarga sederhana yang kelak menapaki dunia akademik dengan konsistensi panjang. Ia adalah Dr. Budiyono, S.H., M.H., putra dari pasangan Zaini Muqodam dan Harleni, dua sosok pensiunan PNS yang sejak awal menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan pengabdian dalam kehidupan keluarga.
Dalam kesederhanaan rumah yang jauh dari kemewahan, Budiyono tumbuh dengan pelajaran hidup yang tidak tertulis di buku pelajaran. Dari ayahnya, ia belajar tentang keteguhan prinsip dan tanggung jawab.
Dari ibunya, ia menyerap nilai kesabaran, kepedulian, dan ketulusan membantu sesama. Nilai-nilai itu perlahan membentuk cara pandangnya terhadap hidup, bahwa pendidikan bukan sekadar jalan meraih gelar, melainkan sarana untuk memberi manfaat seluas-luasnya bagi orang lain.
Perjalanan itu membawanya ke Fakultas Hukum Universitas Lampung. Di ruang-ruang kuliah dan diskusi mahasiswa, Budiyono muda tidak hanya belajar teori hukum, tetapi juga belajar tentang kehidupan. Ia aktif dalam Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum, tempat ia pertama kali merasakan dinamika gagasan, perdebatan, dan proses demokrasi kampus.
Di luar itu, ia juga berproses dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang memperkaya cara berpikirnya membentuknya menjadi intelektual yang kritis namun tetap berakar pada nilai keumatan dan keadilan sosial. Dari sini, ia tumbuh bukan hanya sebagai mahasiswa hukum, tetapi sebagai pribadi yang peka terhadap realitas sosial di sekitarnya.

Tahun 1998 ia menyelesaikan pendidikan sarjana, lalu melanjutkan magister hukum hingga lulus pada 2004. Semangat belajarnya tidak berhenti di situ. Pada 2012, ia meraih gelar doktor dari Universitas Padjadjaran. Di tahun yang sama, ia meneguhkan pilihannya untuk kembali ke kampus, mengabdi sebagai dosen di Fakultas Hukum Universitas Lampung.
Sejak saat itu, ruang kelas menjadi rumah pengabdiannya. Di mata mahasiswa, Budiyono dikenal sebagai dosen yang terbuka dan tidak berjarak. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga mendengarkan. Diskusi dengannya sering kali tidak berhenti di batas materi kuliah, melainkan berkembang menjadi percakapan tentang kehidupan, keadilan, dan masa depan.
Di lingkungan akademik, ia dikenal sebagai sosok yang tenang, mengedepankan musyawarah, dan menjaga integritas. Bagi rekan sejawat, ia bukan hanya pengajar, tetapi juga mitra berpikir yang mampu menjembatani perbedaan pandangan dalam suasana yang sejuk dan konstruktif.
Di luar kampus, kiprahnya sebagai akademisi, konsultan hukum, hingga narasumber di berbagai forum membuat namanya dikenal lebih luas. Namun di balik semua peran itu, ia tetap menjaga satu hal yang sama: kesederhanaan dalam bersikap.
Dalam perjalanan panjangnya, nama Budiyono juga kerap dikaitkan dengan wacana pencapaian jabatan akademik tertinggi sebagai guru besar. Namun ia memilih memaknai perjalanan itu secara lebih dalam. Baginya, gelar bukanlah puncak pengabdian, melainkan hanya salah satu penanda dari proses panjang belajar dan memberi manfaat.
“Yang paling penting bukan apa yang kita capai, tetapi apa yang bisa kita berikan,” menjadi prinsip yang ia pegang dalam sunyi.
Di rumahnya, Budiyono bukan hanya akademisi. Ia adalah seorang suami bagi Titiek Fitriyani, seorang ASN di Pemerintah Provinsi Lampung, dan ayah bagi tiga anak yang menempuh jalan masing-masing: seorang yang menjadi jaksa, seorang yang melanjutkan studi magister hukum, dan seorang yang masih menapaki pendidikan.
Bagi Budiyono, keluarga adalah ruang paling jujur dalam hidup. Di sanalah nilai-nilai pendidikan, kedisiplinan, dan pengabdian benar-benar diuji dan diwariskan.
Seiring waktu, namanya mulai disebut dalam percakapan yang lebih besar: tentang masa depan kepemimpinan Universitas Lampung. Dukungan dari berbagai kalangan datang silih berganti mahasiswa, dosen, alumni, hingga masyarakat yang mengenalnya sebagai sosok pemersatu.
Namun di tengah arus harapan itu, Budiyono tetap menempatkan dirinya dengan tenang. Ia tidak tergesa, tidak pula larut dalam euforia. Ia hanya menyampaikan satu hal sederhana: setiap amanah harus dijalani dengan tanggung jawab, bukan ambisi.
Jika suatu saat dipercaya memimpin Universitas Lampung, ia membawa gagasan yang tidak lahir dari ruang kosong. Ia membayangkan sebuah kampus yang lebih terbuka, kuat dalam riset, dan berdampak bagi masyarakat. Kampus yang tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga pusat inovasi dan kolaborasi masa depan.
Pengembangan Kampus II Universitas Lampung sebagai ruang hijau dan cerdas menjadi salah satu visinya sebuah tempat di mana ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemanusiaan bertemu dalam satu ekosistem yang hidup.
Di atas semua itu, Budiyono percaya bahwa kekuatan terbesar sebuah universitas bukan hanya terletak pada gedung atau fasilitasnya, melainkan pada manusianya: dosen yang berdedikasi, mahasiswa yang kritis, tenaga kependidikan yang bekerja dengan hati, serta alumni yang terus menjaga nama baik almamater.
Dari perjalanan hidupnya, Budiyono seolah mengajarkan satu hal sederhana, bahwa kesederhanaan bukan penghalang untuk melangkah jauh, dan pengabdian tidak selalu harus berisik untuk memberi dampak.(Herwanda Pratama)






