Bandar Lampung— Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan komitmennya membangun ekonomi daerah yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan sebagai bagian dari visi Lampung Maju menuju Indonesia Emas 2045.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, dalam kegiatan coffee morning bersama pimpinan dunia usaha yang digelar di PT Nestlé Indonesia Panjang Factory, Rabu (28/01/2026).
Gubernur Mirza menyampaikan, hingga 2029 Pemprov Lampung mengusung tiga misi utama pembangunan, yakni mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, mandiri dan inovatif; memperkuat sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan produktif; serta meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat melalui pemerintahan yang beradab, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Menurutnya, selama ini ekosistem ekonomi Lampung masih berjalan secara terpisah antara sektor pertanian, industri, dan dunia usaha. Kondisi tersebut membuat nilai tambah belum optimal dirasakan masyarakat, khususnya petani.
“Pemerintah harus hadir sebagai perajut agar seluruh ekosistem ekonomi dapat tumbuh bersama. Jika tidak terhubung dan tidak inklusif, pertumbuhan akan terbatas,” ujarnya.
Mirza juga menyoroti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung yang masih berada di peringkat terbawah di Sumatera dan peringkat 26 nasional. Padahal, secara geografis Lampung memiliki kedekatan dengan Jakarta serta dukungan infrastruktur yang memadai.
Pada 2024, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung tercatat sebesar Rp483 triliun. Sekitar 26 persen atau Rp130 triliun masih berasal dari bahan mentah sektor pertanian, sementara kontribusi industri sekitar Rp90 triliun atau 18 persen. Dari Rp130 triliun sektor pertanian tersebut, baru sekitar 40 persen yang diolah di dalam daerah.
“Kita ingin kopi, jagung, padi, singkong, dan komoditas lainnya diolah di Lampung agar memberi nilai tambah bagi petani,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Pemprov meluncurkan program Desaku Maju yang fokus pada pengolahan hasil pertanian di desa melalui penyediaan mesin pengering (dryer), pupuk organik cair, pelatihan vokasi, dan penguatan BUMDes. Hingga kini, puluhan desa telah menerima bantuan dryer, dengan target kebutuhan sekitar 500 unit untuk seluruh wilayah Lampung.
Menurut Mirza, desa yang memiliki dryer mampu menjaga harga jagung di kisaran Rp4.000 per kilogram, sehingga tambahan pendapatan petani bisa mencapai sekitar Rp1 juta per hektare.
Selain penguatan ekonomi desa, Pemprov Lampung juga berkomitmen mempercepat pembangunan jalan provinsi guna mendukung distribusi hasil pertanian dan aktivitas industri. Di sisi lain, perhatian terhadap lingkungan juga menjadi prioritas, termasuk rehabilitasi hutan dan daerah aliran sungai dengan kebutuhan sekitar 9 juta pohon hingga 2029 melalui kolaborasi CSR dunia usaha.
Sementara itu, Factory Manager PT Nestlé Indonesia Panjang Factory, Jefri Manurung, menyampaikan bahwa pabrik tersebut memproduksi 19 SKU berbagai merek seperti Milo, Maggi, Nescafe, dan Nestle Professional. Sejumlah produk bahkan diekspor, termasuk Maggi Magic Sarap ke Filipina.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Mirza bersama Wakil Gubernur Jihan Nurlela juga melepas ekspor 10 ribu ton produk Maggi Magic Sarap ke Filipina sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan daya saing industri dan ekspor Lampung.(Rdo)






