BANDARLAMPUNG — Tak semua ketahanan pangan harus dimulai dari lahan yang luas. Di tengah padatnya permukiman Bandar Lampung, halaman rumah, pot hingga polybag mulai disulap menjadi ruang kecil untuk menanam sayuran.
Gerakan itu tumbuh melalui pengembangan pertanian perkotaan atau urban farming yang kini melibatkan 80 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang tersebar di 18 kecamatan di Kota Bandar Lampung.
Program yang dijalankan Dinas Pertanian Kota Bandar Lampung tersebut mendorong warga memanfaatkan lahan yang tersedia untuk menghasilkan bahan pangan sekaligus membuka peluang tambahan penghasilan bagi keluarga.
Kepala Dinas Pertanian Kota Bandar Lampung Dedeh Ernawati Fauzie mengatakan, para anggota KWT mengembangkan berbagai pola tanam sesuai kondisi lahan, mulai dari metode konvensional, hidroponik hingga vertikultur.
“Sebagian besar memanfaatkan teknik penanaman konvensional, hidroponik, hingga vertikultur menggunakan media pot maupun polybag,” ujar Dedeh, Selasa (1/9/2026).
Menurut dia, pertanian perkotaan bukan sekadar aktivitas bercocok tanam. Lebih jauh, program tersebut diarahkan untuk membantu keluarga memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri.
Sayuran yang tumbuh di pekarangan juga tidak selalu berhenti di meja makan. Sebagian hasilnya dapat dijual sehingga memberi tambahan pendapatan bagi anggota KWT.
“Manfaat utamanya tentu untuk memenuhi kebutuhan pangan mandiri skala rumah tangga. Selain itu, komoditas sayuran yang ditanam di lahan terbatas juga dapat dijual dan memberi penghasilan para anggota KWT,” jelasnya.
Pengembangan KWT saat ini telah menjangkau hampir seluruh wilayah Bandar Lampung. Namun, Dinas Pertanian masih melakukan pendampingan, termasuk memperkuat administrasi dan kelembagaan kelompok di tingkat kelurahan.
Salah satunya di Kecamatan Telukbetung Timur. KWT di wilayah tersebut baru dibentuk oleh penyuluh pertanian dan masih menjalani proses registrasi.
Sementara di Kecamatan Enggal, pemetaan masih dilakukan untuk membentuk KWT karena hingga kini belum terdapat kelompok tersebut.
Agar kegiatan tidak berhenti sebatas pembentukan kelompok, Dinas Pertanian juga memberikan dukungan berupa bantuan bibit sayuran, pupuk, serta pendampingan mengenai inovasi dan teknologi pertanian.
Dari halaman rumah yang mungkin selama ini dianggap tak cukup berarti, tanaman sayuran tumbuh membawa manfaat yang lebih besar: dapur tetap memiliki bahan pangan, perempuan memiliki ruang produktif, dan keluarga mempunyai peluang tambahan penghasilan.
Di kota yang terus berkembang dan semakin terbatas lahannya, kebun-kebun kecil itu menjadi cara sederhana untuk menjaga ketahanan pangan dimulai dari rumah sendiri.(Red)




