Bandar Lampung -Langit Lampung perlahan berubah. Hujan tak lagi serutin biasanya, sementara panas mulai terasa lebih panjang. Bagi sebagian orang, ini hanya pergantian musim. Tapi bagi petani, ini adalah tanda yang tak bisa diabaikan.

Pemerintah Provinsi Lampung mulai bergerak. Dalam sebuah rapat koordinasi, ancaman El Nino 2026 dibahas bukan sekadar sebagai fenomena alam, tetapi sebagai ujian bagi kehidupan banyak orang.

Di balik istilah teknis dan angka-angka produksi, ada cerita tentang sawah yang bisa retak, sumur yang bisa mengering, dan dapur-dapur yang harus tetap mengepul.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengingatkan bahwa Lampung bukan hanya memberi makan dirinya sendiri. Dari ladang-ladang di provinsi ini, beras mengalir ke berbagai daerah lain di Indonesia.

Baca Juga  Di Balik Seleksi Polri, Peran Teknokrat Hadir Jaga Harapan dan Integritas

“Kalau produksi terganggu, bukan hanya kita yang merasakan,” ujarnya.

Ancaman itu nyata. Ketika air berkurang, padi tak tumbuh sempurna. Jagung ikut terdampak. Harga pakan naik, dan perlahan harga kebutuhan pokok pun ikut merangkak. Di titik itu, yang paling terasa bukan angka melainkan beban di kehidupan sehari-hari.

Wakil Gubernur Jihan Nurlela menyebut, kemarau diperkirakan mulai datang sejak Mei dan mencapai puncaknya pada pertengahan tahun. Artinya, waktu untuk bersiap tidak panjang.

Di desa-desa, kekeringan bukan hal baru. Tapi setiap tahun selalu membawa cerita berbeda. Ada yang kehilangan panen, ada yang harus membeli air, ada pula yang bertahan dengan segala keterbatasan.
Pemerintah pun menyiapkan langkah: mempercepat masa tanam, memperbaiki irigasi, menyiapkan sumber air, hingga mengantisipasi kebakaran lahan. Di sektor kesehatan, kewaspadaan terhadap penyakit seperti ISPA juga mulai ditingkatkan.

Baca Juga  Pemkot Buka SMA Siger Bandar Lampung, Sekolah Gratis untuk Warga Tak Mampu

Namun di balik semua rencana itu, harapan tetap sederhana air tetap ada, tanaman tetap tumbuh, dan kehidupan tetap berjalan.

Kepala klimatologi Lampung dari BMKG, Indra Purna, menyebut kondisi tahun ini tidak seekstrem masa lalu. Tapi tetap cukup kering untuk diwaspadai.

Dan bagi masyarakat Lampung, kewaspadaan itu bukan hanya milik pemerintah. Ia hidup di setiap ladang, setiap sumur, dan setiap rumah yang berharap musim ini bisa dilalui tanpa kehilangan terlalu banyak.(**)

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan