Bandar Lampung-Ruang Kantor Gubernur Lampung, Rabu siang, tak sekadar menjadi tempat penutupan acara. Di sana, ide-ide segar anak muda bertemu dengan harapan besar tentang masa depan Lampung. AI Ideathon Lampung resmi ditutup, namun percakapan tentang teknologi dan perubahan justru baru dimulai.
Di antara layar presentasi dan diskusi yang mengalir, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan satu pesan sederhana: Lampung tak boleh hanya menjadi penonton dalam arus transformasi digital nasional.
“Lampung ini kaya. Pertaniannya luas, perikanannya besar. Tapi tanpa teknologi, potensi itu sulit melompat jauh,” ujar Gubernur di hadapan peserta yang mayoritas berasal dari kalangan muda, mahasiswa, dan praktisi teknologi.
Sekitar 60 persen wilayah Lampung masih bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan. Namun persoalan klasik terus berulang—mulai dari produktivitas, hama, cuaca ekstrem, hingga fluktuasi harga. Di titik inilah kecerdasan buatan dianggap bukan sekadar tren, melainkan alat untuk bertahan dan berkembang.
Selama beberapa hari, peserta AI Ideathon dibekali pendekatan design thinking, memadukan logika teknologi dengan persoalan nyata di lapangan. Ide-ide yang lahir pun membumi: aplikasi untuk membantu petani menentukan waktu tanam, sistem pemantauan kualitas air tambak, hingga platform yang mempertemukan produsen desa dengan pasar.
Bagi Yashinta Bahana, Head of Training & Certification AWS Indonesia, antusiasme peserta menunjukkan bahwa Lampung memiliki modal penting: sumber daya manusia yang siap belajar dan beradaptasi.
“Teknologi tidak harus rumit. Yang penting, relevan dan bisa digunakan masyarakat,” katanya.
Tak kalah penting, keterlibatan sektor swasta seperti Westcon Indonesia menjadi penanda bahwa inovasi tidak berhenti di ruang lomba. Dukungan inkubasi dan pengembangan lanjutan membuka peluang agar ide-ide terbaik benar-benar diimplementasikan.
Di ujung acara, tiga tim terbaik mempresentasikan solusi mereka. Tepuk tangan bergema, bukan sekadar untuk pemenang, tetapi untuk harapan bersama bahwa teknologi bisa menjadi jembatan antara desa dan masa depan.
Lampung hari ini mungkin masih bertumpu pada cangkul dan tambak, tetapi dari ruang ideathon itu, muncul keyakinan baru: dengan AI, anak-anak muda Lampung sedang menyiapkan lompatan besar—pelan, tapi pasti.(**)




