Bandar Lampung — Nilai kebersamaan dan kepedulian kembali ditegaskan dalam kehidupan masyarakat perantauan di Provinsi Lampung. Melalui momentum silaturahmi dan Halal Bihalal, Paguyuban Pasundan Lampung menguatkan filosofi “silih asih” sebagai fondasi membangun kebersamaan di tengah keberagaman.
Ketua Paguyuban Pasundan Lampung, Abdul Hakim, mengajak masyarakat Sunda yang merantau untuk tidak hanya menjaga hubungan sosial, tetapi juga aktif berkontribusi dalam pembangunan daerah.
“Silaturahmi ini bukan sekadar temu kangen, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menghidupkan tiga nilai utama dalam filosofi Sunda, yakni silih asah, silih asih, dan silih asuh. Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata—saling mencerdaskan, saling menyayangi, serta saling menguatkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai, lanjutnya, masyarakat Sunda telah menjadi bagian dari mozaik keberagaman yang hidup berdampingan dengan masyarakat lokal. Karena itu, semangat kebersamaan harus terus dirawat.
“Lampung ini rumah kita bersama. Tidak cukup hanya hidup berdampingan, tetapi harus saling mendukung dan memajukan,” kata dia.
Kegiatan Halal Bihalal tersebut juga dirangkai dengan pelantikan Pasundan Istri (PASI) Provinsi Lampung sebagai wadah pemberdayaan perempuan Sunda. Ketua panitia, Dedeh Kurniasih, menyebutkan acara dihadiri ratusan undangan dan diisi dengan tausyiah serta pertunjukan seni budaya.
“Harapannya, kegiatan ini semakin mempererat solidaritas dan kekompakan masyarakat Sunda di Lampung,” ujarnya.
Apresiasi turut disampaikan Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Yanyan Ruchyansyah. Ia menilai Paguyuban Pasundan memiliki peran penting sebagai ruang silaturahmi sekaligus pelestarian budaya di perantauan.
Dalam kesempatan itu juga dilantik Nana Nasilah sebagai Ketua PASI Provinsi Lampung. Pelantikan ini diharapkan memperkuat peran perempuan dalam menjaga nilai budaya sekaligus mendorong kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.
Di tengah keberagaman Lampung, semangat “silih asih” tak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga jembatan yang menguatkan persaudaraan dan kebersamaan lintas suku di tanah rantau.(Rls)





