BANDAR LAMPUNG — Mimpi bekerja di luar negeri bagi sebagian anak muda mungkin terasa jauh. Namun, bagi sejumlah lulusan SMK Negeri 7 Bandar Lampung, mimpi itu perlahan menjadi kenyataan.
Dari bangku sekolah kejuruan, mereka mulai menyiapkan langkah untuk menembus dunia kerja internasional. Jepang menjadi salah satu negara tujuan yang ingin mereka datangi, membawa bekal keterampilan, bahasa, dan keberanian untuk memulai kehidupan baru.

Sejak tahun ajaran 2023, tercatat sembilan lulusan SMKN 7 Bandar Lampung berhasil diterima bekerja di luar negeri melalui program Kelas Migran Vokasi (KMV).
Dari jumlah tersebut, empat orang telah bekerja di Jepang dan Jerman. Sementara lima lulusan lainnya masih menunggu proses kontrak kerja.
Kepala SMKN 7 Bandar Lampung, H. Kemis, S.Pd., M.M., mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari proses pembekalan yang dilakukan sejak siswa masih berada di bangku sekolah.
Menurutnya, sekolah tidak hanya berupaya membuat siswa menguasai keterampilan sesuai bidang kejuruan, tetapi juga membuka wawasan mereka terhadap peluang kerja di luar negeri.
“Empat sudah bekerja di Jepang dan Jerman, sedangkan lima lainnya masih menunggu kontrak kerja,” ujar Kemis saat diwawancarai, Rabu (7/10).
Dua lulusan bahkan telah dipastikan bekerja di Jepang pada bidang perhotelan. Mereka menjadi bagian dari generasi lulusan SMK yang mencoba mencari pengalaman dan masa depan melalui dunia kerja internasional.
Jalan menuju Jepang pun tidak dilalui dengan mudah.
Melalui program KMV yang bekerja sama dengan Siger Lampung Center, siswa mendapatkan berbagai pembekalan sebelum benar-benar memasuki proses rekrutmen.
Program tersebut awalnya diminati sekitar 70 siswa. Setelah mengikuti proses pembinaan dan seleksi, jumlahnya mengerucut menjadi sekitar 35 peserta.
Setiap Sabtu, para peserta mendapatkan pembelajaran bahasa Jepang. Mereka juga dibekali keterampilan sesuai dengan bidang pekerjaan yang ingin ditekuni.
Program itu diberikan secara gratis. Namun, untuk kebutuhan tertentu seperti kegiatan studi atau perjalanan ke luar daerah, pembiayaannya disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan.
Bagi siswa yang membidik Jepang, kemampuan bahasa menjadi salah satu pintu penting yang harus dilewati.
Mereka harus memenuhi persyaratan kemampuan bahasa Jepang melalui ujian kemampuan bahasa Jepang atau JLPT. Selain itu, calon pekerja juga harus lulus ujian keterampilan sesuai bidang pekerjaan yang dituju.
Setelah memenuhi persyaratan, perjuangan berlanjut ke tahap matching job dan wawancara dengan calon pemberi kerja.
Sebelum berangkat ke Jepang, para lulusan juga harus menyelesaikan magang serta memiliki sertifikat sebagai bagian dari persyaratan kerja.
Rangkaian proses tersebut membuat siswa tidak sekadar bermimpi bekerja di luar negeri. Mereka dipersiapkan untuk benar-benar memahami tuntutan dunia kerja yang akan dihadapi.
Kemis menilai keberhasilan para alumni menjadi bukti bahwa pendidikan vokasi dapat membuka jalan yang luas bagi masa depan siswa.
Dari ruang kelas, bengkel praktik, pembelajaran bahasa hingga proses seleksi kerja, para siswa perlahan disiapkan untuk berhadapan dengan dunia yang lebih besar.
Bagi mereka, Jepang bukan sekadar negeri yang jauh di seberang laut.
Di sana ada kesempatan, pengalaman, dan harapan baru.
Sementara bagi sekolah, keberangkatan para alumni menjadi pengingat bahwa pendidikan SMK tidak berhenti ketika siswa menerima ijazah.
Bekal yang diberikan di sekolah dapat menjadi modal untuk melangkah lebih jauh dan bahkan hingga ke Negeri Sakura.(Herwanda Pratama)






