LAMPUNG TIMUR – Aroma cokelat khas hasil bumi Lampung Timur memenuhi kawasan Desa Sumur Bandung, Kecamatan Way Jepara, saat Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKAI) Kabupaten Lampung Timur menggelar Festival Kakao, Sabtu (25/7/2026). Di balik kemeriahan festival, tersimpan harapan besar untuk meningkatkan kesejahteraan ribuan keluarga petani kakao.
Beragam stan UMKM memamerkan aneka produk olahan berbahan baku kakao lokal, mulai dari bubuk cokelat hingga makanan siap saji. Produk-produk tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung sekaligus menunjukkan bahwa kakao Lampung Timur memiliki nilai tambah yang terus berkembang.
Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, turut hadir meninjau stan pameran dan berdialog langsung dengan para petani. Menurutnya, pemerintah daerah berkomitmen membangun ekosistem kakao yang kuat, tidak hanya di sektor budidaya, tetapi juga pada pengolahan hingga pemasaran hasil panen.
“Kita harus memberikan dukungan penuh kepada para petani kakao. Dukungan ini juga perlu datang dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk kelompok-kelompok tani binaan,” ujar Ela.
Ia mengatakan, fokus pemerintah saat ini adalah mendorong hilirisasi kakao melalui pemberdayaan UMKM. Inisiatif yang digagas APKAI diharapkan mampu melahirkan lebih banyak produk olahan bernilai ekonomi tinggi sehingga keuntungan tidak berhenti pada penjualan biji kakao semata.
Untuk meningkatkan kualitas hasil panen dan pengolahan, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur juga berencana menjalin kerja sama agar para petani dapat mengikuti program Akademi Kakao. Program tersebut diharapkan menjadi ruang belajar bagi petani untuk meningkatkan keterampilan budidaya maupun pengolahan pascapanen.
“Potensi kakao di Lampung sangat besar. Di Lampung Timur, kakao menjadi komoditas unggulan keempat. Ke depan, program Perhutanan Sosial juga akan kita dorong untuk mendukung pengembangan perkebunan kakao,” katanya.
Data Statistik Perkebunan Lampung Timur 2025 menunjukkan luas perkebunan kakao di daerah itu mencapai 11.076 hektare dengan produksi sekitar 3.750 ton. Produktivitasnya tercatat 5,7 kuintal per hektare dan menjadi sumber penghidupan bagi sedikitnya 24.555 kepala keluarga petani.
Festival Kakao bukan sekadar ajang promosi produk lokal, tetapi juga menjadi simbol optimisme bahwa kakao Lampung Timur mampu naik kelas. Dari kebun milik petani hingga menjadi produk olahan yang siap dinikmati masyarakat, kakao diharapkan menjadi penggerak ekonomi sekaligus mengangkat kesejahteraan para petani di Bumi Tuah Bepadan.(Red)





