BANDAR LAMPUNG — Pergantian kepemimpinan Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031 memang belum resmi dimulai. Namun, harapan terhadap sosok pemimpin yang mampu membawa perubahan mulai tumbuh dari berbagai lapisan, mulai dari alumni, akademisi, praktisi hingga mahasiswa.

Di tengah dinamika tersebut, nama Dr. Budiono mulai mendapat perhatian. Ia dinilai memiliki kapasitas akademik sekaligus modal sosial untuk membawa suasana baru dalam pengelolaan kampus yang menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi di Lampung tersebut.

Bagi sejumlah tokoh, pergantian rektor bukan semata soal pergantian figur. Lebih dari itu, momentum tersebut diharapkan menjadi kesempatan untuk menghadirkan energi baru, memperkuat kolaborasi dan membuat Unila semakin diperhitungkan di tingkat nasional maupun internasional.

Mantan Bupati Lampung Selatan, Wendy Melfa, memandang penyegaran kepemimpinan sebagai kebutuhan penting bagi Unila.

Menurutnya, kampus membutuhkan energi baru agar mampu bergerak lebih cepat dalam mengembangkan kualitas akademik sekaligus investasi kelembagaan.

Baca Juga  Gubernur Mirza Ajak Santri Darul Islah Jadi Agen Perubahan dan Penjaga Moral Bangsa

“Kebutuhan organisasi di Unila adalah penyegaran kinerja. Kita berharap Dr. Budiono, dengan semangat jiwa mudanya, mampu mempercepat pertumbuhan investasi material maupun akademik,” ujar Wendy.

Harapan serupa datang dari kalangan alumni dan praktisi hukum. Mantan anggota KPU Provinsi Lampung, Nilan Nagis, melihat kepemimpinan Unila ke depan juga perlu memberikan ruang bagi keberagaman latar belakang akademik.

Ia mencatat, posisi rektor Unila sejauh ini belum pernah diisi akademisi yang tumbuh dari Fakultas Hukum.

“Semoga jika nanti terpilih, beliau bisa membawa Unila jauh lebih baik dan memastikan seluruh fungsi sivitas akademika berjalan sebagaimana mestinya,” kata Nilan.

Sementara itu, akademisi Unila Dr. Dedi Hermawan menilai tantangan rektor ke depan tidak ringan. Menurutnya, pemimpin Unila harus mampu menyatukan berbagai potensi yang ada di dalam kampus sekaligus membangun jejaring yang lebih luas di luar kampus.

“Institusi ini butuh figur yang mampu memadukan seluruh potensi sivitas akademika untuk mendongkrak daya saing Unila, baik di level nasional maupun internasional,” ujarnya.

Baca Juga  Ketua DPRD Lampung Apresiasi Kiprah LDII dalam Penguatan Wawasan Kebangsaan

Menariknya, suara perubahan juga datang dari mahasiswa. Bagi mereka, pemimpin baru tidak cukup hanya memiliki kemampuan administratif, tetapi juga harus mau hadir, mendengar dan membuka ruang dialog.

Sekretaris Umum HMI Cabang Bandar Lampung, Tegar Mulia, berharap rektor periode mendatang memiliki target yang jelas untuk membawa Unila masuk jajaran 15 besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Namun, menurut Tegar, prestasi akademik harus berjalan beriringan dengan keterbukaan komunikasi.

“Kami berharap pimpinan baru tidak hanya merangkul kelompok tertentu. Seluruh elemen mahasiswa harus diberi ruang komunikasi yang setara,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Ketua Umum HMI Komisariat Hukum Unila, Ferdinand Fahrul Adha. Ia berharap birokrasi kampus ke depan tidak terlalu berjarak dengan mahasiswa.

Menurutnya, komunikasi langsung antara pimpinan dan mahasiswa penting agar berbagai persoalan di lapangan tidak berhenti pada surat edaran atau prosedur administratif.

Baca Juga  Nasib 102 Siswa SMA Siger Terjamin, Biaya Sekolah Ditanggung Pemkot

“Rektor baru harus berani membuka diri terhadap kritik dan hadir langsung mendengarkan keluhan mahasiswa di lapangan. Kampus butuh perubahan nyata yang memihak pada substansi akademik, bukan sekadar formalitas birokrasi,” ujarnya.

Beragam suara tersebut memperlihatkan bahwa harapan terhadap kepemimpinan Unila berikutnya tidak hanya datang dari ruang-ruang akademik. Ada harapan dari alumni, tuntutan dari mahasiswa, serta keinginan agar kampus mampu melangkah lebih jauh di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat.

Pada akhirnya, siapa pun yang dipercaya memimpin Unila periode 2027–2031 akan menghadapi pekerjaan besar: menjaga capaian yang telah ada sekaligus menjawab harapan banyak pihak terhadap kampus yang lebih terbuka, kolaboratif dan berdaya saing.

Di tengah harapan itu, nama Dr. Budiono menjadi salah satu figur yang kini mulai diperbincangkan sebagai bagian dari aspirasi perubahan tersebut.(**)

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan