Gerimis Mempercepat Kelam

Oleh : Herwanda Pratama
Gerimis sering kali dianggap sepele. Ia datang perlahan, menetes pelan, tanpa suara gaduh seperti hujan badai. Namun di kota yang tata ruangnya rapuh dan sistem drainasenya tak lagi mampu menampung air, gerimis justru bisa menjadi pertanda datangnya kelam yang lebih cepat.
Seperti bait puisi penyair besar Indonesia, Chairil Anwar, dalam sajaknya Senja di Pelabuhan Kecil yang menghadirkan suasana sepi, sendu, dan perenungan.
Dalam kutipannya berbunyi
“Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang.
menyinggung muram, desir hari lari berenang.
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak.
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak, ”
Belakangan ini warga Bandar Lampung kembali merasakan hal itu. Hujan yang turun beberapa jam saja cukup membuat sejumlah kawasan terendam. Air meluap ke jalan, masuk ke rumah-rumah warga, bahkan melumpuhkan aktivitas kota. Banjir yang berulang itu bukan hanya persoalan alam, tetapi juga cermin dari bagaimana sebuah kota dikelola.
Bandar Lampung adalah kota yang tumbuh cepat. Perumahan baru bermunculan, bangunan komersial seperti mall dan hotel berdiri, dan ruang-ruang kota terus berubah. Namun pertumbuhan yang tidak diimbangi dengan perencanaan yang matang sering kali justru menciptakan masalah baru. Saluran air menyempit, kawasan resapan hilang, sementara sungai kian terbebani oleh sedimentasi dan sampah.
Masalah banjir di Bandar Lampung bukan semata soal hujan. Ia juga berkaitan dengan koordinasi kewenangan yang kerap tumpang tindih. Sungai berada di bawah kewenangan pemerintah pusat, drainase menjadi tanggung jawab pemerintah kota, sementara pembangunan kawasan baru sering kali berjalan lebih cepat daripada pengawasan tata ruang.
Di tengah kondisi seperti ini, masyarakat tentu berharap solusi yang lebih nyata. Bukan hanya penanganan sesaat ketika banjir datang, tetapi langkah jangka panjang yakni normalisasi sungai, perbaikan drainase, penataan ruang kota, hingga keberanian untuk mengendalikan pembangunan yang mengabaikan lingkungan.
Sehingga jika nanti gerimis datang, masyarakat pun tidak memandang itu Kelam.





