Bandar Lampung – Semangat perubahan terasa kuat di Gedung Serbaguna Universitas Lampung, Senin (6/4/2026). Ratusan mahasiswa berkumpul dalam kegiatan Stadium General dan Pelantikan Pengurus BEM U KBM Unila 2026 bukan sekadar seremoni, tetapi momentum meneguhkan peran mahasiswa sebagai harapan masa depan bangsa.
Di tengah dinamika era digital yang penuh tantangan, Prof. Warsito hadir membawa pesan yang sederhana namun mendalam mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan.
“Indonesia Emas 2045 tidak datang dengan sendirinya. Ia harus diperjuangkan oleh generasi yang siap, bukan hanya cerdas, tetapi juga berkarakter,” ujarnya di hadapan peserta yang memenuhi ruangan.
Suasana menjadi reflektif ketika ia menyinggung bonus demografi peluang besar yang dimiliki Indonesia. Namun di balik peluang itu, tersimpan kekhawatiran jika generasi muda tidak dipersiapkan dengan baik.
Menurutnya, masa depan bangsa tidak lagi ditentukan oleh kekayaan alam, tetapi oleh kualitas manusia. Mahasiswa, kata dia, harus tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, empati sosial, dan kemampuan beradaptasi di tengah perubahan cepat.
Kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Staf Ahli Menteri Pertanian Tin Latifah dan akademisi Unila Dr. Budiyono. Sebelumnya, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman turut memberikan pandangan strategis terkait arah pembangunan dan peran generasi muda.
Pelantikan pengurus BEM dilakukan langsung oleh Rektor Universitas Lampung, Prof. Lusmeilia Afriani, menandai dimulainya babak baru kepemimpinan mahasiswa di kampus tersebut.
Namun lebih dari itu, yang mengemuka dalam forum ini adalah dorongan agar gerakan mahasiswa tidak berhenti pada kritik. Prof. Warsito mengajak mahasiswa untuk bertransformasi dari gerakan yang reaktif menjadi gerakan yang solutif dan berbasis data.
“Mahasiswa harus hadir dengan solusi. Harus mampu memberi dampak nyata, sekecil apa pun itu, bagi masyarakat,” tegasnya.
Di era disrupsi teknologi, tantangan yang dihadapi mahasiswa tidak hanya soal kemampuan digital, tetapi juga krisis karakter. Karena itu, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kekuatan nilai-nilai kemanusiaan.
Di akhir acara, harapan itu terasa nyata: kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi ruang lahirnya perubahan. Dari ruang-ruang diskusi, dari gerakan kecil mahasiswa, hingga kontribusi nyata di tengah masyarakat.(**)





