Bandar Lampung — Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan perubahan sosial yang kian cepat, mahasiswa dituntut tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa.
Akademisi Fakultas Hukum Universitas Lampung, Dr. Budiyono, menegaskan bahwa tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan lagi soal kecerdasan, melainkan krisis nilai yang kian terasa di era digital.
“Masalah terbesar generasi muda hari ini bukan pada kecerdasan intelektual, melainkan pada kurangnya kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab,” ujar Budiyono, Senin (6/4/2026).
Menurutnya, derasnya arus informasi tanpa filter telah memicu disorientasi nilai serta melemahnya daya pikir kritis. Dampaknya, berbagai pelanggaran kian marak, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Ia mengingatkan, mahasiswa tidak boleh hanya terjebak dalam rutinitas akademik semata, seperti mengejar indeks prestasi. Lebih dari itu, mahasiswa merupakan kekuatan strategis bangsa yang memiliki peran penting dalam perubahan sosial.
“Mahasiswa adalah agen perubahan, kontrol sosial, sekaligus calon pemimpin masa depan. Mereka bukan penonton, tetapi aktor utama dalam sejarah bangsa,” tegasnya.
Budiyono juga menekankan pentingnya kesadaran hukum sebagai fondasi utama dalam menghadapi era digital. Menurutnya, kesadaran hukum merupakan perpaduan antara kontrol diri dan tanggung jawab sosial.
“Tanpa kesadaran hukum, kebebasan bisa berubah menjadi kekacauan. Sebaliknya, dengan kesadaran yang kuat, kebebasan bisa menjadi kekuatan untuk perubahan yang positif,” jelasnya.
Ia menambahkan, mahasiswa perlu mengembangkan diri secara utuh melalui empat aspek utama, yakni intelektual, sosial, kepemimpinan, serta moral dan hukum. Keempatnya menjadi kunci dalam membentuk karakter pemimpin masa depan yang berintegritas.
Dalam konteks menuju Indonesia Emas 2045, Budiyono menilai tantangan generasi muda semakin kompleks. Mulai dari distraksi digital, mental instan, hingga menurunnya kepedulian sosial dan literasi hukum.
“Tantangan terbesar bukan pada teknologi, tetapi pada karakter,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen mahasiswa, khususnya pengurus BEM Universitas Lampung 2026, untuk menjadikan momentum kepengurusan sebagai ruang pembelajaran kepemimpinan dan pengabdian.
“BEM adalah laboratorium kepemimpinan. Jabatan bukan soal prestise, tetapi amanah yang harus dijalankan dengan integritas,” katanya.
Budiyono menutup dengan pesan agar mahasiswa membuktikan kepemimpinan melalui aksi nyata yang berdampak bagi masyarakat.
“Mahasiswa sejati bukan hanya pintar, tetapi bernilai dan berdampak. Mereka menggerakkan, bukan sekadar mengikuti arus,” pungkasnya.(Rls)





