BANDAR LAMPUNG — Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tak hanya menyisakan debu di jalan dan permukiman. Di Sekolah Disabilitas Bunda (SDB) Kota Bandar Lampung, Senin (14/9/2026), sisa abu juga menempel di halaman, jalur pejalan kaki hingga sejumlah sudut bangunan sekolah.
Pagi itu, sejumlah personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Bandar Lampung datang membawa kendaraan pemadam. Bukan untuk mengejar kobaran api, melainkan menyemprotkan air ke lingkungan sekolah yang terdampak hujan abu vulkanik.
Semburan air diarahkan ke permukaan halaman dan fasilitas sekolah. Abu yang menempel dibersihkan secara bertahap agar tidak kembali beterbangan dan mengganggu aktivitas belajar para siswa.
Kepala Sekolah Disabilitas Bunda Kota Bandar Lampung, Muhammad Yusri, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian pihak sekolah karena peserta didik membutuhkan lingkungan belajar yang bersih dan nyaman.
“Anak-anak kami memiliki kebutuhan khusus yang memerlukan lingkungan belajar yang bersih dan nyaman. Setelah adanya hujan abu vulkanik, cukup banyak debu yang menempel di area sekolah. Alhamdulillah hari ini Damkarmat membantu melakukan pembersihan secara menyeluruh,” kata Yusri.
Menurut Yusri, pembersihan dilakukan dengan cepat dan terorganisir. Petugas menyisir kawasan sekolah untuk memastikan sisa abu tidak tertinggal di lokasi yang berpotensi mengganggu kegiatan belajar.
Bagi sekolah, persoalannya bukan semata soal halaman yang terlihat kotor. Abu vulkanik yang tersisa juga menjadi bagian dari perhatian terhadap kenyamanan dan kesehatan siswa ketika kembali menjalani aktivitas pendidikan.
“Kami sangat mengapresiasi perhatian dan respons cepat Damkarmat Kota Bandar Lampung. Dengan lingkungan yang sudah bersih, siswa dapat kembali belajar dengan aman, nyaman, dan fokus mengikuti pembelajaran,” ujarnya.
Pembersihan berlangsung selama beberapa jam. Genangan air bercampur abu yang sebelumnya memenuhi sejumlah bagian halaman perlahan dibersihkan.
Respons Damkarmat menjadi bagian dari upaya penanganan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau di Bandar Lampung. Di tengah aktivitas vulkanik, perhatian terhadap kelompok rentan seperti siswa penyandang disabilitas menjadi penting agar proses pendidikan tetap berlangsung dalam lingkungan yang aman.
“Langkah tersebut menjadi bentuk kepedulian agar mereka tetap mendapatkan hak belajar dalam lingkungan yang sehat, aman, dan mendukung tumbuh kembang mereka meski di tengah dampak aktivitas alam yang terjadi beberapa waktu lalu,” kata Yusri.(nda)





