Bandar Lampung – Sesekali, seorang pemimpin perlu menjauh dari meja kerja. Dari tumpukan dokumen, rapat yang tak kunjung usai, dan dering telepon yang seolah tak mengenal waktu. Bukan untuk berhenti bekerja, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk kembali mengingat alasan mengapa jabatan itu diemban.
Suasana itulah yang terasa di Masjid Nurul Ulum, Kompleks Islamic Centre Rajabasa, Bandar Lampung. Selama empat hari, sejak 30 Juli hingga 2 Agustus 2026, para Sekretaris Daerah kabupaten dan kota se-Lampung berkumpul dalam sebuah retreat yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Lampung.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan. Namun, retreat ini bukan sekadar agenda seremonial. Pemerintah Provinsi Lampung ingin menghadirkan ruang refleksi bagi para pejabat karier tertinggi di daerah untuk kembali meneguhkan nilai-nilai integritas, kepemimpinan, dan pengabdian.
Baca Juga Bunda Eva Serahkan 108 SK Pensiunan
Di sela padatnya tanggung jawab birokrasi, para peserta diajak menjalani hari-hari yang berbeda. Ada kajian Al-Qur’an, tausiah, musyawarah, olahraga bersama, hingga materi tentang keteladanan Rasulullah SAW dalam memimpin. Semua dirancang agar kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga dari kekuatan karakter.
Marindo Kurniawan memandang birokrasi yang kuat lahir dari pribadi-pribadi yang memiliki integritas. Karena itu, pembangunan aparatur tidak cukup hanya melalui peningkatan kompetensi teknis, tetapi juga harus menyentuh aspek moral dan spiritual.
Retreat juga menjadi ruang bertemunya para Sekda dari berbagai daerah untuk saling bertukar pengalaman menghadapi persoalan pemerintahan. Di tengah perbedaan karakter wilayah dan tantangan masing-masing, mereka dipersatukan oleh satu tujuan: menghadirkan pelayanan publik yang semakin baik.
Baca Juga Komisi I DPRD Bandar Lampung Sidak Pembangunan Living Plaza
Kegiatan ini merupakan bagian dari arahan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, yang menginginkan birokrasi daerah dibangun di atas fondasi etika, integritas, soliditas, dan semangat kebersamaan. Sebab, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh program yang dirancang, tetapi juga oleh kualitas orang-orang yang menjalankannya.
Empat hari mungkin terasa singkat. Namun, di balik waktu yang terbatas itu tersimpan harapan besar. Bahwa ketika para pemimpin birokrasi kembali ke daerah masing-masing, yang mereka bawa bukan hanya catatan hasil pertemuan, melainkan semangat baru untuk memimpin dengan hati, melayani dengan integritas, dan bekerja dengan keteladanan.(red/Wanda)





