Bandar Lampung – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung pada 10–11 Juni 2026, isu dugaan mobilisasi massa yang disebut-sebut melibatkan kelompok preman mulai menjadi sorotan.
Kekhawatiran tersebut memicu reaksi sejumlah elemen masyarakat di Lampung. Mereka mengingatkan agar agenda nasional yang mempertemukan pengusaha muda dari berbagai daerah itu tidak ternoda oleh praktik intimidasi maupun unjuk kekuatan massa.
Ketua Pandawa Provinsi Lampung, Muhamad Hatta, menegaskan dukungannya terhadap penyelenggaraan Munas HIPMI di Lampung. Namun, ia mengingatkan seluruh peserta dan pendukung calon ketua umum untuk menjaga suasana tetap kondusif.
“Munas HIPMI adalah forum organisasi yang terhormat. Jangan sampai tercoreng oleh tindakan yang menimbulkan kegaduhan. Hormati kearifan lokal dan jaga nama baik Lampung,” ujar Hatta, Selasa (9/6/2026).

Pernyataan serupa disampaikan Panglima GML Indonesia Provinsi Lampung, Arif Gunawan. Menurutnya, Lampung terbuka bagi seluruh tamu dan peserta Munas, tetapi tidak memberi ruang bagi tindakan yang berpotensi mengganggu ketertiban masyarakat.
Arif menegaskan pihaknya siap ikut menjaga keamanan selama kegiatan berlangsung. Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang membawa kepentingan di luar semangat organisasi dan kewirausahaan.
“Jangan jadikan Munas HIPMI sebagai ajang adu massa atau adu kekuatan. Lampung menyambut baik kegiatan nasional, tetapi keamanan dan kenyamanan masyarakat harus tetap menjadi prioritas,” katanya.

Munculnya isu dugaan keterlibatan kelompok preman dalam kontestasi Munas HIPMI hingga kini masih sebatas informasi yang beredar di kalangan peserta dan masyarakat. Namun, isu tersebut dinilai cukup untuk menjadi alarm bagi seluruh pihak agar mengedepankan etika organisasi dan menjaga proses demokrasi berjalan sehat.
Sebagai tuan rumah, Lampung berharap Munas HIPMI menjadi ajang pertukaran gagasan dan lahirnya kepemimpinan baru yang mampu membawa organisasi semakin maju, bukan justru meninggalkan catatan buruk akibat konflik dan kegaduhan.
Di tengah meningkatnya tensi menjelang pemilihan ketua umum, pesan yang mengemuka dari berbagai elemen masyarakat Lampung sederhana: datang sebagai pengusaha, pulang membawa gagasan, bukan membawa kegaduhan.(Wanda)





