Table of contents: [Hide] [Show]

    BANDAR LAMPUNG — Sebuah gerai kecil di tengah permukiman bisa menjadi lebih dari sekadar tempat berbelanja. Ia bisa menjadi tempat warga mencari kebutuhan sehari-hari, sekaligus ruang bagi ekonomi kampung untuk tumbuh.

    Harapan itu sedang dibangun Pemerintah Kota Bandar Lampung melalui Koperasi Merah Putih.

    Hingga April 2026, sebanyak 65 Koperasi Merah Putih telah terbentuk dan beroperasi di sejumlah kelurahan. Sebagian tumbuh dari swadaya warga, bahkan ada gerai yang dibangun melalui gotong royong masyarakat.

    Kini, Pemerintah Kota Bandar Lampung sedang menyiapkan skema bantuan modal awal untuk membantu koperasi-koperasi tersebut mengembangkan usahanya.

    Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandar Lampung Riana Apriana mengatakan bantuan tidak akan diberikan secara merata karena keterbatasan anggaran. Pemerintah akan melihat kesiapan dan aktivitas masing-masing koperasi.

    Baca Juga  TP PKK dan Dinsos Lampung Salurkan 15 Kaki Palsu untuk Penyandang Disabilitas

    “Sedang dirancang bantuan modal awal, tapi tidak semua bisa mendapatkan karena keterbatasan anggaran. Prioritas akan diberikan kepada koperasi yang sudah memiliki gerai dan aktif beroperasi,” kata Riana.

    Bagi koperasi yang selama ini bergerak dengan kemampuan sendiri, bantuan modal dapat menjadi tambahan napas untuk memperbesar usaha. Namun, pemerintah tetap meminta koperasi menunjukkan aktivitas dan kesiapan dalam mengelola usaha.

    Dari 65 koperasi tersebut, kondisi gerainya beragam. Ada yang masih menyewa tempat, ada pula yang sudah memiliki gerai permanen.

    Beberapa bahkan tidak menunggu bantuan pemerintah untuk mulai bergerak.

    Di Kelurahan Beringin Raya, Kecamatan Kemiling, misalnya, koperasi telah memiliki gerai yang dibangun secara mandiri. Lahan milik kantor kelurahan dimanfaatkan untuk melayani kebutuhan warga di sekitarnya.

    Baca Juga  Jalan Pulau Singkep Diperbaiki, Terimakasih Bunda Eva dan Dinas PU Bandar Lampung

    “Beberapa gerai dibangun secara gotong royong oleh masyarakat setempat,” ujar Riana.

    Cerita tersebut menunjukkan bahwa koperasi tidak selalu bermula dari modal besar. Ada yang lahir dari kebutuhan warga, kemudian tumbuh perlahan melalui kebersamaan.

    Riana memastikan koperasi yang telah terbentuk saat ini berjalan aktif. Kehadirannya diharapkan memudahkan masyarakat memperoleh kebutuhan sehari-hari dengan harga yang kompetitif.

    Di sinilah koperasi diharapkan kembali kepada akar sederhananya: ekonomi yang tumbuh dari warga dan kembali untuk warga.

    Pemerintah kota kini tinggal memastikan agar semangat yang sudah tumbuh di tingkat kelurahan itu mendapat dukungan yang tepat. Bantuan modal, ketika nantinya diberikan, diharapkan bukan sekadar menjadi suntikan dana, melainkan pemantik agar koperasi mampu berdiri lebih kuat dan mandiri.

    Baca Juga  Semangat Raden Ajeng Kartini Hidup di Balik Kebaya Pegawai Pemkot Bandar Lampung

    Sebab, di balik satu gerai koperasi, ada warga yang berharap kebutuhan sehari-hari lebih mudah dijangkau, ada pelaku usaha kecil yang ingin mendapat ruang, dan ada harapan agar roda ekonomi tidak hanya berputar di pusat kota, tetapi juga hidup dari lingkungan tempat warga tinggal.(Red)

    Tinggalkan Komentar

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Iklan