BANDAR LAMPUNG — Festival Krakatau selama bertahun-tahun menjadi etalase budaya dan pariwisata Lampung. Namun, di balik kemeriahan panggung seni, lomba, dan atraksi wisata, muncul kritik bahwa festival tersebut belum memberi ruang yang memadai bagi sejarah yang melatarbelakangi namanya.

Kelompok Studi Kader (Klasika) Lampung menilai Festival Krakatau 2026 masih didominasi kegiatan seremonial dan hiburan. Aspek edukasi tentang letusan Gunung Krakatau 1883, yang menjadi salah satu bencana terbesar dalam sejarah dunia, dinilai belum menjadi bagian penting dalam rangkaian acara.

Direktur Klasika Lampung Ahmad Mufid mengatakan, Festival Krakatau semestinya tidak hanya menjadi agenda pariwisata tahunan, tetapi juga ruang belajar bagi masyarakat mengenai sejarah, kebencanaan, dan identitas Lampung.

“Festival Krakatau jangan hanya berhenti sebagai tontonan. Ia harus menjadi tuntunan. Letusan Krakatau 1883 bukan sekadar peristiwa masa lalu, tetapi menyimpan pelajaran tentang kebencanaan, ekologi, dan kemanusiaan,” kata Mufid, Jumat, 24 Juli 2026.

Baca Juga  Gubernur Lampung Tegaskan Lampung Siap Jadi Pusat Swasembada Kedelai Nasional

Festival Krakatau 2026 dijadwalkan berlangsung pada 25–30 Agustus mendatang di Lapangan Saburai, Bandar Lampung. Pemerintah Provinsi Lampung menyiapkan beragam agenda, mulai dari festival band, solo song, tari, Mengan Balak, Seruit Battle, Krakatau Run, festival mewarnai, hingga karnaval budaya, pertunjukan seni tradisional, festival kuliner, balap perahu, lomba layang-layang, dan pameran seni serta kerajinan.

Menurut Mufid, keberagaman kegiatan tersebut memang dapat meningkatkan daya tarik wisata dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Namun, ia menilai narasi sejarah Krakatau justru belum mendapat porsi yang seimbang.

Klasika mengusulkan agar penyelenggara menghadirkan ruang edukasi melalui diskusi publik, pameran arsip sejarah, pemutaran film dokumenter, hingga forum yang melibatkan akademisi dan peneliti.
Salah satu usulan yang disampaikan adalah mengundang Dr. Suryadi dari Universitas Leiden, peneliti naskah Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh.

Baca Juga  Meraih Doktor dari Kegelisahan Membongkar Korupsi

Naskah tersebut merupakan dokumentasi langka yang merekam dampak letusan Gunung Krakatau 1883 dari sudut pandang masyarakat Lampung.
“Teks ini adalah reportase pribumi yang mendokumentasikan kedahsyatan letusan Krakatau. Di dalamnya terdapat nilai sejarah, catatan ilmiah, sekaligus dokumentasi jurnalistik yang penting dikenalkan kepada masyarakat,” ujar Mufid.

Menurut dia, pengenalan terhadap naskah-naskah lokal seperti Syair Lampung Karam dapat memperkuat literasi sejarah sekaligus membangun kesadaran masyarakat terhadap risiko kebencanaan di wilayah yang berada di sekitar Selat Sunda.

Klasika mengingatkan, tanpa penguatan aspek edukasi, Festival Krakatau berisiko dipersepsikan semata sebagai agenda hiburan. Padahal, nama Krakatau melekat pada salah satu peristiwa yang mengubah lanskap geografis, sosial, dan sejarah Lampung serta dunia.

Baca Juga  Pemkot Bandar Lampung Tunggu Finalisasi Rancangan Pengelolaan Sampah Modern PT Greenprosa

“Kita tidak ingin generasi mendatang hanya mengenal Krakatau sebagai nama festival, tetapi melupakan tragedi besar yang membentuk sejarah dan identitas masyarakat Lampung,” kata Mufid.

Karena itu, Klasika mendorong Pemerintah Provinsi Lampung mengevaluasi konsep Festival Krakatau agar keseimbangan antara promosi pariwisata dan pendidikan sejarah dapat diwujudkan. Dengan demikian, Festival Krakatau tidak hanya menjadi panggung hiburan, tetapi juga ruang merawat ingatan kolektif tentang salah satu peristiwa paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara.(Red)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan