BANDAR LAMPUNG — Tuberkulosis belum benar-benar pergi dari Bandar Lampung. Ia masih muncul dari rumah, lingkungan dan fasilitas kesehatan, sementara pemerintah berpacu dengan waktu menuju target eliminasi TBC pada 2030.
Hingga September 2026, sebanyak 19.228 orang terduga TBC telah menjalani pemeriksaan. Sebanyak 2.607 orang dinyatakan positif.
Dari jumlah itu, 2.299 pasien telah masuk pengobatan dan masih menjalani proses penyembuhan.
Angka tersebut sekaligus memperlihatkan dua wajah penanganan TBC: semakin banyak kasus ditemukan, semakin terbuka peluang untuk mengobatinya. Tetapi semakin banyak pula pekerjaan yang harus dituntaskan agar penularan tidak berlanjut.
Pemerintah Kota Bandar Lampung sebenarnya telah memperluas pencarian kasus melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diintegrasikan dengan pemeriksaan TBC.
Sejak Juli 2026, skrining tersebut berjalan di 31 puskesmas dengan 294 lokus pemeriksaan. Targetnya 100 orang per lokus, sehingga sekitar 29.400 orang diharapkan tersaring hingga akhir tahun.
Namun sampai September, capaian skrining baru sekitar 30 persen.
Masih ada sekitar 70 persen sasaran yang harus dikejar.
Kelompok yang menjadi sasaran bukan sembarang orang. Pemeriksaan diarahkan antara lain kepada kontak serumah pasien TBC, kontak erat di masyarakat, penderita diabetes, lanjut usia, serta perokok.
Data 2025 memberi gambaran betapa panjang pekerjaan itu.
Saat itu 36.201 orang terduga TBC menjalani pemeriksaan. Sebanyak 4.301 orang dinyatakan positif. Dari jumlah tersebut, 3.980 pasien atau sekitar 92,54 persen telah mendapatkan pengobatan.
Namun hanya 3.009 di antaranya tercatat sebagai warga yang berdomisili di Bandar Lampung.
Sebanyak 2.695 pasien telah dinyatakan sembuh. Sementara 314 lainnya masih menjalani pengobatan karena belum menyelesaikan masa terapi enam bulan.
Di lapangan, pengobatan tidak berhenti ketika obat diberikan. Kepatuhan menjadi bagian lain dari pertarungan melawan penyakit yang mudah menular ini.
Dinas Kesehatan melibatkan kader posyandu dan keluarga pasien untuk mengingatkan penderita agar meminum obat secara rutin sampai pengobatan selesai.
Pasien juga diedukasi menggunakan masker ketika berada di dalam rumah serta tidak membuang dahak atau ludah sembarangan.
Pemerintah pun menggandeng Dinas Sosial, Kodim dan unsur lintas sektor lainnya untuk memperkuat penemuan kasus dan memastikan pengobatan berjalan sampai tuntas.
Target eliminasi TBC pada 2030 akhirnya bukan hanya soal mengejar angka kasus. Ada pekerjaan yang lebih sunyi: menemukan mereka yang belum terdiagnosis, memastikan pasien tidak berhenti berobat di tengah jalan, dan memutus kemungkinan penularan dari satu rumah ke rumah lainnya.
Di Bandar Lampung, 2.607 kasus positif telah ditemukan hingga September. Tetapi dengan target skrining CKG 29.400 orang yang baru tercapai sekitar 30 persen, perburuan itu masih jauh dari garis akhir.(Nda)






