BANDAR LAMPUNG — Di tengah kemarau yang belum beranjak, ratusan warga Lampung menadahkan tangan ke langit. Kamis (10/9/2026) pagi, Lapangan Korpri, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, dipenuhi jamaah yang mengikuti Salat Istisqa dan doa bersama.

Bukan sekadar meminta hujan. Di tengah tanah yang mengering, ancaman kebakaran hutan dan lahan, serta abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menyelimuti sejumlah wilayah, warga datang membawa satu harapan: agar hujan segera turun dan menjadi berkah bagi Lampung.

Suasana khusyuk terasa ketika jamaah mengikuti salat dan doa. Tangan-tangan terangkat, memohon ampun sekaligus meminta pertolongan kepada Allah SWT.

“Ya Allah kami melakukan salat Istisqa atas sunnah Nabi-Mu, terimalah doa kami Ya Allah,” demikian doa yang dipanjatkan dalam kegiatan tersebut.

Baca Juga  Banjir di Lampung: 2.181 Rumah Terendam, 3 Warga Meninggal Dunia

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan Salat Istisqa menjadi momentum untuk melakukan introspeksi, memperbanyak istighfar dan memohon ampun atas segala kekhilafan.

Menurut Mirza, berbagai upaya pemerintah dalam menghadapi persoalan yang terjadi di Lampung memiliki keterbatasan. Karena itu, ikhtiar manusia perlu berjalan beriringan dengan doa.

“Sebesar apa pun ikhtiar pemerintah, sebesar apa pun ikhtiar masyarakat, kita memiliki keterbatasan. Pada akhirnya takdir tetap berada dalam kehendak dan kuasa Allah SWT,” ujar Mirza.

Ia menyebut kemarau dan aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi pengingat agar masyarakat semakin mendekatkan diri kepada Allah sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Pemerintah, kata dia, tetap melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau, kekeringan dan potensi karhutla. Masyarakat juga terus diimbau menjaga kesehatan dan meningkatkan kewaspadaan.

Baca Juga  Pemkot Bandar Lampung Sesuaikan Jam Kerja ASN Selama Ramadan 2025, Pelayanan Dipastikan Tetap Optimal

Namun di balik seluruh ikhtiar itu, Mirza mengajak masyarakat membersihkan hati, meninggalkan kebencian dan dendam, serta membuka ruang untuk bertobat.

“Mari kita ketuk pintu langit. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosa kita, menerima taubat kita, dan segera menurunkan hujan yang berkah, yang menghidupkan bumi yang mati serta membawa manfaat bagi kelangsungan hidup kita,” katanya.

Mirza berharap Salat Istisqa tidak berhenti di Lapangan Korpri. Ia mengajak masyarakat melaksanakan salat meminta hujan di masjid, pondok pesantren dan berbagai tempat berkumpul masyarakat di seluruh Lampung.

Sebab, di tengah kemarau yang panjang, harapan warga sederhana: langit kembali menurunkan hujan, tanah kembali basah, udara menjadi lebih bersih, dan kehidupan berjalan dengan lebih tenang.

Baca Juga  Gubernur Lampung Kirim Bantuan untuk Korban Banjir, DPRD Kota Bandar Lampung Fraksi Gerindra Tinjau Lokasi

“Semoga Allah SWT memberikan keberkahan dan segera menurunkan hujan untuk daerah yang kita cintai ini,” ujar Mirza.

Salat Istisqa dan doa bersama tersebut turut dihadiri ulama, kiai, tokoh masyarakat serta ratusan jamaah.(**)

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan