Oleh: Herwanda Pratama

Lebaran selalu punya cara untuk membuat kita pulang, bukan hanya ke rumah, tetapi juga ke dalam diri sendiri. Di antara peluk hangat keluarga, foto bersama, makan opor bersama, dan maaf yang terucap, ada ruang sunyi yang diam-diam menyusun ulang makna hidup. Kita seperti diingatkan, bahwa di balik segala hiruk-pikuk dunia, ada tempat untuk kembali menjadi manusia seutuhnya.

Namun, waktu tak pernah berhenti. Libur usai, jalanan kembali padat, notifikasi pekerjaan mulai berdatangan. Kita pun kembali ke meja kerja, dikejar deadline, ke rutinitas yang menunggu untuk dilanjutkan. Di titik inilah, kita bukan sekadar kembali, tetapi bersiap untuk berjuang lagi.

Baca Juga  Estafet Sang Juara

Bagi sebagian orang, kembali bekerja terasa seperti menarik diri dari kehangatan menuju kenyataan. Ada yang masih ingin tinggal lebih lama di suasana rumah di Kampung Halaman, ada pula yang harus segera berdamai dengan tumpukan pekerjaan dan target yang menanti.

Bahkan, tak sedikit yang pulang dengan beban baru, pengeluaran Lebaran yang belum pulih, atau kegelisahan akan masa depan yang belum pasti.

Tetapi hidup memang berjalan di antara dua ruang, pulang dan perjuangan. Pulang memberi kita jeda, perjuangan menguji kita dalam perjalanan. Tanpa pulang, kita bisa kehilangan arah. Tanpa perjuangan, kita kehilangan makna.

Maka ketika langkah kembali diarahkan ke tempat kerja, mungkin yang perlu kita bawa bukan hanya tas dan tugas, tetapi juga sisa hangat dari rumah. Agar di tengah kerasnya dunia, kita tidak kehilangan rasa.
Kita sudah pulang.
Kini, saatnya berjuang lagi dengan realita yang ada.

Baca Juga  Penegakan Hukum dan Jeritan Suara Perut Rakyat

Tabik…

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan