BANDAR LAMPUNG — Bencana tidak selalu datang dengan tanda. Ketika banjir, kebakaran, atau keadaan darurat terjadi, masyarakat membutuhkan orang-orang yang berada paling dekat untuk bergerak cepat.
Di titik itulah peran Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) menjadi penting. Tak hanya membantu menjaga ketertiban, Satlinmas didorong menjadi kekuatan yang sigap membantu masyarakat menghadapi berbagai situasi darurat.
Dorongan tersebut mengemuka dalam Apel Akbar Satlinmas dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, yang dirangkaikan dengan Deklarasi Pengukuhan serta Pelantikan DPP dan DPD Satlinmas Indonesia.
Ketua Pembina Satlinmas sekaligus Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, menegaskan bahwa keberadaan Satlinmas harus diwujudkan melalui pengabdian nyata di tengah masyarakat.
Menurutnya, Satlinmas tidak perlu mengejar kebesaran organisasi. Yang lebih penting adalah memastikan keberadaannya memberikan manfaat bagi masyarakat dan negara.
“Satlinmas tidak perlu berlomba menjadi besar dalam nama. Yang terpenting adalah kuat dalam pengabdian, tertib dalam organisasi, dan nyata dalam karya. Jaga keamanan masyarakat, jaga persatuan, dan jangan pernah menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan bangsa dan negara,” tegas Maruli.
Mewakili Koordinator Satlinmas, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus mengatakan, posisi Satlinmas sangat strategis karena berada dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dalam situasi bencana, kedekatan tersebut menjadi kekuatan. Satlinmas dapat membantu menyampaikan informasi dari lapangan, mendukung kesiapsiagaan, serta membantu masyarakat sesuai tugas dan kewenangannya.
“Dalam setiap tahapan penanganan bencana, Satlinmas dapat membantu menyampaikan informasi, mendukung kesiapsiagaan, serta membantu masyarakat sesuai kemampuan dan kewenangannya. Penanganan bencana tidak berhenti pada evakuasi, tetapi juga mencakup pemulihan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Peran tersebut juga mencakup upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Satlinmas diharapkan dapat melakukan deteksi dini, memantau kondisi lingkungan, serta mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Di Kota Bandar Lampung, peran Linmas juga terus diarahkan untuk hadir di tengah kebutuhan masyarakat.
Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana mengatakan Linmas selama ini terlibat dalam membantu masyarakat ketika terjadi bencana maupun dalam berbagai kegiatan sosial.
“Alhamdulillah, untuk Linmas kita selalu siap membantu masyarakat saat ada bencana, kegiatan sosial, dan edukasi terkait pembangunan Kota Bandar Lampung. Linmas kita juga selalu berkoordinasi dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas terkait dinamika yang terjadi di lapangan,” kata Eva.
Bagi warga, kehadiran Linmas mungkin kerap terlihat dalam kegiatan lingkungan, pengamanan acara masyarakat, atau membantu mengatur situasi ketika terjadi persoalan di lapangan.
Namun, dalam keadaan darurat, peran itu bisa menjadi jauh lebih berarti. Mereka menjadi salah satu unsur pertama yang mengetahui kondisi warga dan dapat meneruskan informasi kepada pemerintah maupun petugas terkait.
Karena itu, penguatan Satlinmas bukan sekadar soal organisasi. Ada kebutuhan untuk membangun kesiapsiagaan dari lingkungan terkecil, tempat masyarakat sehari-hari hidup dan beraktivitas.
Sinergi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, BPBD, pemadam kebakaran, pemerintah daerah, serta unsur lainnya menjadi penting agar penanganan keadaan darurat dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi.
Satlinmas pun diharapkan tidak hanya hadir setelah bencana terjadi. Lebih dari itu, mereka dituntut mampu menjadi mata dan telinga di tengah masyarakat yakni mendeteksi potensi bahaya, menyampaikan peringatan, dan membantu warga sebelum keadaan berkembang menjadi lebih buruk.(Red)






