Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung terus memperkuat sinergi dengan Bank Indonesia (BI) guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan dan berkeadilan. Fokus utama kerja sama ini meliputi penguatan komoditas strategis, pengembangan ekonomi desa, serta pengendalian inflasi.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan pentingnya peran seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dalam menyelaraskan program dengan rekomendasi Bank Indonesia. Langkah tersebut diharapkan mampu mendukung target pertumbuhan ekonomi Lampung pada 2026 di kisaran 5,5 hingga 6 persen.
Hal itu disampaikan Gubernur Mirza saat Rapat Rekomendasi Penguatan Kinerja Komoditas Strategis yang digelar di Kantor Gubernur Lampung, Kamis (5/2/2026).
“Kami berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk mendampingi pemerintah daerah, terutama dalam menjaga keseimbangan pertumbuhan ekonomi agar benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat Lampung,” ujar Mirza.
Menurutnya, Bank Indonesia telah melakukan pemetaan menyeluruh terhadap kondisi perekonomian Lampung dan menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis yang perlu segera ditindaklanjuti.
Mirza menjelaskan, sepanjang 2025 Pemprov Lampung telah mulai membenahi berbagai persoalan yang selama ini menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya pada tata niaga komoditas unggulan seperti padi, jagung, bawang merah, cabai, dan kopi.
“Persoalan dari hulu hingga hilir sudah kita petakan. Selanjutnya kita dorong hilirisasi agar komoditas unggulan memberi nilai tambah, terutama di desa,” jelasnya.
Ia menekankan, hilirisasi di tingkat desa akan mendorong perputaran uang tetap berada di daerah, sekaligus memperkuat ekonomi desa sebagai basis pertumbuhan.
Selain itu, Pemprov Lampung juga berkomitmen menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan, khususnya menjelang dan selama bulan suci Ramadan, guna memastikan inflasi tetap terkendali.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto menyatakan bahwa sektor pertanian masih menjadi penopang utama perekonomian Lampung, sehingga perlu terus diperkuat meski memiliki kerentanan terhadap risiko cuaca ekstrem.
“Strateginya adalah meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong pengolahan produk turunan agar komoditas tidak hanya dijual sebagai bahan mentah,” kata Bimo.
Ia optimistis, dengan stabilitas ekonomi dan strategi yang tepat, pertumbuhan ekonomi Lampung pada 2026 berpotensi meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.(**)





