PESAWARAN — Satu tahun bukan waktu yang panjang untuk mengubah wajah sebuah daerah. Namun, bagi Pemerintah Kabupaten Pesawaran, satu tahun kepemimpinan Bupati Hj. Nanda Indira B., S.E., M.M. dan Wakil Bupati Antonius Muhammad Ali, S.H., menjadi masa untuk mulai menata banyak hal—dari jalan yang dilalui warga setiap hari, ruang belajar anak-anak, hingga upaya membuka peluang ekonomi dari potensi desa.
Sejak dilantik pada 27 Agustus 2025, Nanda-Anton membawa semangat pembangunan yang mereka arahkan pada satu tujuan: membuat Pesawaran semakin mampu menjawab kebutuhan masyarakatnya.
Di bawah visi Pesawaran yang Cerdas, Aman, Kreatif, Efektif dan Produktif (CAKEP), pembangunan tidak hanya diletakkan pada proyek fisik. Pemerintah daerah juga berupaya memperkuat sumber daya manusia, ekonomi masyarakat, pelayanan publik, serta potensi lokal yang selama ini menjadi kekuatan Bumi Andan Jejama.
Bagi masyarakat, pembangunan kerap kali hadir dalam bentuk yang sederhana. Jalan yang lebih mudah dilalui, kesempatan belajar yang lebih baik, harga kebutuhan pokok yang tetap terjangkau, atau peluang bagi warga untuk mengembangkan usaha.

Hal-hal semacam itulah yang menjadi bagian dari pekerjaan besar pemerintah daerah selama setahun terakhir.
Persoalan infrastruktur masih menjadi salah satu pekerjaan penting di Pesawaran. Kondisi jalan kabupaten yang belum seluruhnya mantap membuat pemerintah harus mencari cara agar penanganannya bisa dilakukan lebih cepat.
Salah satunya melalui Satgas Tambal Sulam yang diarahkan untuk menangani kerusakan jalan secara lebih responsif.
Upaya tersebut berjalan bersamaan dengan peningkatan kemantapan jalan yang kini mencapai 55,27 persen.
Angka tersebut mungkin terlihat sederhana di atas kertas. Namun bagi warga desa, kondisi jalan berkaitan langsung dengan aktivitas sehari-hari—mulai dari anak berangkat sekolah, petani membawa hasil panen, hingga masyarakat menuju pusat pelayanan kesehatan.
Karena itu, pembangunan infrastruktur ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperlancar kehidupan masyarakat, bukan sekadar mengejar angka capaian.
Rencana pembangunan Sekolah Rakyat Menengah Pertama di Gedong Tataan dan Balai Latihan Kerja (BLK) Pariwisata di Kecamatan Kedondong menjadi bagian dari ikhtiar memperluas kesempatan pendidikan dan peningkatan keterampilan.
Pesawaran memiliki banyak potensi. Pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, pertanian, hingga sektor kelautan membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dan siap bersaing.

Karena itu, pendidikan dan pelatihan dipandang bukan hanya sebagai program pemerintah, tetapi sebagai investasi jangka panjang agar anak-anak Pesawaran kelak tidak hanya menjadi penonton pertumbuhan ekonomi di daerahnya sendiri.
Ekonomi Tumbuh, Masyarakat Didorong Lebih Berdaya
Dalam satu tahun perjalanan pemerintahan Nanda-Anton, sejumlah indikator ekonomi juga menunjukkan perkembangan positif.
Perekonomian Pesawaran tumbuh 5,38 persen. Di sisi lain, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 70,90, sementara angka kemiskinan turun menjadi 10,93 persen.
Inflasi juga berada pada angka 0,44 persen.
Bagi pemerintah, capaian tersebut menjadi gambaran bahwa roda ekonomi daerah terus bergerak. Namun pekerjaan tidak berhenti pada angka statistik.
Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat, terutama mereka yang menggantungkan hidup dari usaha kecil, pertanian, perdagangan, pariwisata, dan sektor produktif lainnya.
Karena itu, pengembangan potensi lokal menjadi salah satu arah penting pembangunan Pesawaran.
Mengubah Potensi Lokal Menjadi Peluang
Pesawaran memiliki bentang alam yang menjadi modal besar bagi pengembangan ekonomi daerah. Dari kawasan pesisir hingga kepulauan, potensi wisata, budaya dan ekonomi masyarakat terus didorong agar memiliki nilai tambah.
Pemerintah Kabupaten Pesawaran mengembangkan Kawasan Wisata Terpadu (KWT) sebagai upaya menghubungkan berbagai potensi tersebut.
Konsepnya bukan sekadar menghadirkan destinasi wisata, tetapi mempertemukan pariwisata dengan UMKM, budaya, kreativitas dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Dengan demikian, ketika wisatawan datang, manfaatnya diharapkan tidak berhenti di lokasi wisata. Warung warga ikut bergerak, produk UMKM memiliki pasar, pelaku ekonomi kreatif mendapatkan ruang, dan masyarakat desa memperoleh kesempatan untuk tumbuh bersama.
Di sisi lain, persoalan lingkungan juga mulai ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan.
Rencana pengembangan fasilitas pengolahan sampah berkelanjutan di TPA Taman Sari menjadi salah satu langkah yang disiapkan untuk menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern.
Selain menjawab persoalan lingkungan, pengembangan tersebut juga diharapkan membuka ruang kerja sama dengan mitra maupun investor.
Pembangunan tidak akan berjalan kuat tanpa tata kelola pemerintahan yang baik.
Karena itu, transparansi, akuntabilitas dan pengelolaan keuangan daerah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pemerintahan Nanda-Anton.
Kabupaten Pesawaran berhasil mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI untuk ke-10 kalinya secara berturut-turut.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pembangunan harus berjalan seiring dengan pengelolaan pemerintahan yang tertib dan dapat dipertanggungjawabkan.
*Satu Tahun Bukan Akhir Perjalanan*
Memasuki satu tahun kepemimpinan, Bupati Nanda menyadari bahwa capaian yang telah diraih belum berarti seluruh persoalan Pesawaran selesai.
Justru, berbagai capaian tersebut menjadi pijakan untuk melanjutkan pekerjaan yang lebih besar.
“Apa yang telah kita capai selama satu tahun ini harus menjadi pijakan untuk bekerja lebih baik. Masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan, masih banyak potensi yang harus kita kembangkan, dan masih banyak kebutuhan masyarakat yang harus kita jawab. Karena itu, semangat kolaborasi harus terus kita jaga,” ujar Nanda.
*Pesan serupa disampaikan Wakil Bupati Antonius Muhammad Ali*
Menurutnya, pembangunan harus mampu menghubungkan kebijakan pemerintah dengan kehidupan ekonomi masyarakat.
“Kita ingin pembangunan tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi mampu membuka kesempatan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, potensi yang ada di desa harus kita dorong menjadi kekuatan ekonomi daerah,” kata Antonius.
Satu tahun Nanda-Anton pada akhirnya bukan hanya tentang deretan angka capaian pembangunan.
Lebih dari itu, satu tahun pertama adalah tentang bagaimana sebuah pemerintahan mulai membangun fondasi—memperbaiki yang rusak, menyiapkan yang belum tersedia, membuka peluang baru, dan menjaga agar pertumbuhan Pesawaran dapat dirasakan lebih luas.
*Perjalanannya masih panjang*
Jalan yang harus diperbaiki masih ada. Potensi yang belum tergarap masih banyak. Begitu pula harapan masyarakat yang terus tumbuh.
Dari desa, pesisir, hingga pusat pemerintahan, pekerjaan itu kini menjadi bagian dari perjalanan Pesawaran untuk tumbuh sebagai daerah yang semakin kuat, inklusif dan mampu berdiri di atas potensi masyarakatnya sendiri.(**)





