Lampung Timur-Foto seorang pria mengenakan jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya. Senyumnya menyapa dari sebuah foto yang kini ramai beredar di beranda media sosial. Namun, kali ini bukan ucapan selamat yang memenuhi kolom komentar. Melainkan ucapan duka: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Satu per satu orang menuliskan rasa kehilangan. Nama Yusuf Putra Ramadhan menjadi perbincangan, bukan lagi karena karya atau suara merdunya, melainkan karena kepergiannya yang begitu mendadak.

Pria kelahiran 1993 itu kini hanya tinggal kenangan. Bagi banyak orang, terutama penikmat musik Lampung, Yusuf bukan sekadar seorang penyanyi. Suaranya pernah hadir menemani hari-hari mereka. Lagu-lagu khas Lampung yang dibawakannya, termasuk Penyampai Rakhsa, menjadi karya yang dikenang dan dinikmati banyak orang.

Baca Juga  Masyarakat Lima Keturunan Bandar Dewa Gelar Aksi Tebang Pohon Karet PT HIM

Namun, pada 13 September 2026, suara itu tiba-tiba terhenti.
Hari itu menjadi hari yang sulit diterima bagi keluarga, sahabat, rekan seprofesi, dan orang-orang yang pernah mengenal sosoknya. Yusuf menghadap Sang Pencipta untuk selamanya.

Kepergiannya terasa semakin dalam bagi rekan-rekan yang selama ini mengenalnya sebagai pribadi yang enerjik dan aktif.
Yusmuh, salah seorang rekan dekat Yusuf, mengenang sosok almarhum sebagai pribadi yang tidak hanya aktif dalam dunia jurnalistik, tetapi juga memiliki talenta kuat di bidang tarik suara.

“Yusuf itu enerjik. Selain aktif liputan, juga sering diundang untuk menghibur karena suara Yusuf cukup bagus,” kata Yusmuh, Senin (14/9/2026).

Di tengah kesibukannya sebagai jurnalis, Yusuf tetap menyempatkan diri menekuni dunia seni. Baginya, menyanyi bukan sekadar aktivitas tambahan. Ada kecintaan terhadap musik dan budaya Lampung yang ia bawa melalui suara.
Karena itulah, kabar kepergiannya terasa begitu berat.

Baca Juga  Apresiasi Budaya Sambut Bupati dan Wakil Bupati Lampung Utara Terpilih

Yusmuh mengatakan, banyak orang merasa kehilangan, terutama anak remaja yang selama ini menyukai lagu-lagu khas Lampung yang dibawakan Yusuf.

“Padahal tidak pernah sakit begitu parah. Tapi tidak tahu, tiba-tiba kawan saya meninggal seperti mendadak dan dimakamkan di Kedondong, Pesawaran,” kata Yusmuh.

Kabar itu datang terlalu cepat untuk diterima. Bagi sebagian orang, Yusuf mungkin hanya seorang jurnalis yang sesekali muncul dalam kegiatan liputan. Bagi yang lain, ia adalah penyanyi dengan suara yang mudah dikenali. Tetapi bagi orang-orang terdekatnya, Yusuf adalah sosok yang hadir dengan energi, pertemanan, dan keceriaan.

Kini semuanya berubah menjadi kenangan.
Karya-karyanya masih dapat didengarkan. Lagu-lagu yang pernah ia bawakan masih bisa menemui telinga para pendengarnya. Namanya pun akan terus hidup melalui jejak karya yang pernah ia tinggalkan.
Yusuf pergi ketika perjalanan hidupnya masih panjang.

Baca Juga  Anggota DPRD Lampung M. Hazizi: Kepatuhan Beragama Cerminan Jiwa Pancasila

Dia meninggalkan seorang anak dan keluarga yang tentu masih harus belajar menerima kenyataan bahwa sosok yang selama ini ada kini tak akan kembali.
Seorang seniman muda Lampung telah berpulang.

Suara yang dahulu menghibur, kini tinggal rekaman. Sosok yang dahulu hadir dalam liputan dan pergaulan, kini hanya dapat dikenang melalui cerita orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
Pada akhirnya, manusia boleh pergi, tetapi karya dan kebaikan yang ditinggalkan tidak selalu ikut mati.(Agus)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan