BANDAR LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung mengandalkan teknologi pemantauan satelit hingga operasi pemadaman melalui udara untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kekeringan di sejumlah wilayah.
Strategi penanganan tersebut menggabungkan pemantauan titik panas (hotspot), operasi modifikasi cuaca (OMC), pengerahan helikopter untuk water bombing, serta pemadaman langsung oleh petugas di lapangan.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, pemantauan titik panas dilakukan secara berkelanjutan menggunakan teknologi satelit. Informasi tersebut menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang membutuhkan penanganan segera.
Menurutnya, pemerintah tidak ingin menunggu api membesar sebelum melakukan tindakan. Begitu titik api terdeteksi, tim akan mengecek kondisi lokasi dan cuaca untuk menentukan langkah pemadaman.
“Ketika ada titik api yang harus segera ditangani, kita langsung kerahkan pemadaman dari udara. Di lapangan, tim juga bekerja memadamkan api,” kata Mirza, Kamis (27/8/2026).
Ia mencontohkan penanganan kebakaran di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), tepatnya di Resort Rantau Jaya, pada Rabu (26/8/2026).
Setelah titik api terdeteksi melalui pemantauan, helikopter langsung dikerahkan untuk melakukan pemadaman menggunakan metode water bombing.
“Jadi kita monitor terus melalui satelit. Ketika terdeteksi ada titik api, kita tidak menunggu api membesar. Tim langsung melihat lokasinya dan kalau membutuhkan pemadaman dari udara, helikopter segera diarahkan ke titik tersebut,” ujarnya.
Mirza berharap pola penanganan cepat tersebut dapat mencegah kebakaran meluas dan menekan dampak kerusakan lingkungan.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Rudy Sjawal Sugiarto mengatakan, operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu langkah pendukung dalam penanganan karhutla.
Melalui OMC, pemerintah berharap hujan dapat membantu membasahi wilayah yang mengalami kekeringan sehingga proses pemadaman di darat maupun melalui udara menjadi lebih efektif.
“Harapannya, dengan adanya OMC ini, hujan dapat membantu membasahi wilayah yang membutuhkan sehingga mendukung proses pemadaman dan mengurangi potensi munculnya titik api baru,” kata Rudy.
Kombinasi pemantauan satelit, modifikasi cuaca, pemadaman udara, dan penanganan langsung di lapangan diharapkan mampu mempercepat respons terhadap kebakaran.
Pemprov Lampung juga menempatkan upaya pencegahan sebagai bagian penting dalam pengendalian karhutla, terutama di kawasan hutan dan lahan yang rentan terbakar saat musim kering.(Wanda)






