BANDAR LAMPUNG — Pagi itu, suasana peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Lampung tak sekadar seremoni tahunan. Di balik barisan peserta upacara dan lantunan amanat, tersimpan harapan besar tentang masa depan anak-anak Lampung yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Pemerintah Provinsi Lampung menjadikan momen Hardiknas sebagai titik refleksi—bahwa pendidikan bukan hanya soal angka dan nilai, tetapi tentang memanusiakan manusia. Sebuah proses panjang yang dibangun dengan ketulusan, kasih sayang, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi yang layak untuk tumbuh.
Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, menegaskan bahwa semangat pendidikan harus kembali pada nilai-nilai luhur yang diajarkan Ki Hajar Dewantara. Konsep “asah, asih, asuh” menjadi pengingat bahwa sekolah bukan sekadar ruang belajar, tetapi tempat anak-anak menemukan jati diri.
Di ruang-ruang kelas, harapan itu perlahan dirajut. Sekolah didorong menjadi lingkungan yang aman, ramah, dan terbuka bagi semua anak—termasuk mereka yang selama ini kerap terpinggirkan. Pendidikan inklusif bukan lagi sekadar wacana, melainkan komitmen yang terus diperkuat.
Tak hanya itu, peningkatan kualitas pembelajaran juga terus digalakkan melalui literasi, numerasi, serta penguatan sains dan teknologi. Berbagai ruang ekspresi seperti lomba seni, olahraga, hingga pengembangan bakat akademik dihadirkan, agar setiap anak dapat bersinar dengan caranya sendiri.
Lebih jauh, akses pendidikan yang merata menjadi perhatian utama. Dari sekolah satu atap di daerah terpencil, pembelajaran jarak jauh, hingga layanan bagi anak berkebutuhan khusus—semua diarahkan untuk memastikan tak ada lagi anak yang tertinggal.
Di Hari Pendidikan Nasional ini, Lampung tidak hanya memperingati, tetapi juga meneguhkan langkah. Bahwa pendidikan adalah cahaya—dan setiap anak berhak merasakannya, tanpa kecuali.(**)




