Lampung Selatan-
Di tengah riuh pembangunan dan pesatnya pertumbuhan kawasan perkotaan, sekelompok warga di perbatasan Desa Fajar Baru, Kabupaten Lampung Selatan, dan Kelurahan Way Kandis, Kota Bandar Lampung, justru masih harus bertaruh keselamatan demi sebuah akses penghubung sederhana.
Dengan bergotong royong, warga Dusun 2A Desa Fajar Baru membangun jembatan darurat dari batang kelapa dan bambu. Jembatan itu membentang di atas aliran kecil yang menjadi penghalang utama aktivitas masyarakat sehari-hari.
Tak ada alat berat. Tak ada material beton. Hanya tenaga warga, tali seadanya, batang kelapa, dan bambu yang dipikul bersama-sama.
Suasana haru dan miris tampak saat warga bahu membahu mengangkat material jembatan. Di tengah keterbatasan, mereka tetap berusaha menghadirkan akses yang bisa dilalui masyarakat.
“Miris memang, tapi mau bagaimana lagi. Kalau tidak kami bangun sendiri, masyarakat sulit melintas,” ungkap salah seorang warga di sela gotong royong.
Jembatan darurat tersebut selama ini menjadi akses penting penghubung antara Way Kandis, Bandar Lampung, dengan Desa Fajar Baru, Lampung Selatan. Meski berada di kawasan yang belum padat penduduk dan kondisi jalannya belum terbentuk sempurna, jalur itu tetap menjadi urat nadi aktivitas warga.
Setiap hari masyarakat melintas menggunakan sepeda motor hingga berjalan kaki untuk bekerja, bertani, maupun menjalankan aktivitas ekonomi lainnya. Di tengah kondisi yang serba terbatas, warga tetap menggantungkan harapan pada jembatan sederhana itu.
Kepala Dusun 2A Desa Fajar Baru, Junaidi, mengatakan keberadaan jembatan sangat vital bagi masyarakat di dua wilayah perbatasan tersebut.
Menurutnya, akses itu bukan hanya digunakan warga Lampung Selatan, tetapi juga masyarakat Bandar Lampung, khususnya para petani yang memiliki lahan garapan di wilayah Desa Fajar Baru dan sekitarnya.
“Jalur ini setiap hari dipakai warga untuk aktivitas. Memang titik jembatan masuk wilayah Kota Bandar Lampung, bukan Lampung Selatan. Tapi manfaatnya dirasakan bersama,” jelasnya.
Junaidi berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut. Warga mendambakan hadirnya jembatan permanen yang layak dan aman digunakan masyarakat.
Sebab hingga kini, setiap kali hujan turun dan debit air meningkat, warga harus waswas ketika melintas di atas jembatan batang kelapa yang rapuh. Namun di balik keterbatasan itu, semangat gotong royong masyarakat tetap hidup.
Di saat pembangunan kota terus bergerak maju, warga di perbatasan ini masih membangun harapan dengan bambu dan batang kelapa menanti hadirnya jembatan permanenkan yang selama ini hanya menjadi impian.(Yusuf)





