Lampung Selatan-
Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi ketika suara cangkul mulai terdengar dari ujung Jalan R.A Basyid Gang Murni A-S dan Baitul Makmur, Desa Fajar Baru, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan.

Puluhan warga datang membawa alat seadanya. Ada yang memikul cangkul, membawa parang, hingga mendorong gerobak kecil berisi batu dan tanah.
Tak ada alat berat. Tak ada proyek pemerintah. Yang ada hanya semangat kebersamaan dan keinginan sederhana: membuka jalan agar kampung mereka lebih mudah dilalui.

Di atas lahan yang sebelumnya hanya berupa jalan setapak, warga bergotong royong memperlebar akses jalan hingga sekitar empat meter dengan panjang hampir 200 meter. Peluh bercampur debu tak mereka hiraukan. Sesekali terdengar tawa dan candaan di sela pekerjaan.

Baca Juga  Pemkab Mesuji Terima Penghargaan IGA Award sebagai Kabupaten Terinovatif

Anak-anak kecil tampak memperhatikan dari kejauhan. Sebagian ibu-ibu datang membawa air minum dan makanan ringan untuk warga yang bekerja sejak pagi.
“Sudah lama warga berharap jalan ini bisa dilewati mobil,” kata Ketua RT 01, Turi, sambil membersihkan tanah yang menempel di tangannya.

Menurutnya, selama ini akses tersebut hanya cukup dilalui sepeda motor dan pejalan kaki. Ketika hujan turun, jalan menjadi licin dan sulit dilalui. Namun harapan mulai terbuka setelah pemilik lahan dengan sukarela menghibahkan sebagian tanahnya demi kepentingan bersama.

Tanpa menunggu bantuan datang, warga memilih bergerak sendiri. Sebagian bahkan rela mengeluarkan uang pribadi untuk membeli kebutuhan gotong royong.
Tak ada yang meminta bayaran. Semua bekerja karena merasa jalan itu nantinya akan menjadi urat nadi lingkungan mereka.

Baca Juga  Komisi V DPRD Lampung Soroti Masalah Seragam di SMKN 1 Terbanggibesar, Panggil Komite dan Wali Murid

Di sisi jalan, beberapa warga terlihat membuat aliran air sederhana dengan mengeruk pinggiran tanah. Mereka tak ingin jalan baru itu cepat rusak akibat genangan air hujan.
Gotong royong yang dilakukan warga Fajar Baru bukan sekadar membuka jalan. Lebih dari itu, mereka sedang membangun harapan tentang lingkungan yang lebih baik, lebih mudah diakses, dan lebih berkembang di masa depan.

Di tengah zaman ketika banyak orang mulai sibuk dengan urusan masing-masing, pemandangan puluhan warga bekerja bersama sejak pagi menjadi gambaran bahwa nilai kebersamaan ternyata masih hidup dan tumbuh di kampung-kampung kecil.

Bagi warga, jalan itu bukan hanya penghubung antarwilayah. Jalan itu adalah simbol kepedulian, kekompakan, dan keyakinan bahwa perubahan bisa dimulai dari tangan sendiri.(Herwanda Pratama)

Baca Juga  Petani Semangka di Lampung Timur Berjuang Dapatkan Air, Pemerintah Diminta Perhatikan Nasib Petani

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan