Amerika Serikat– Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (Menko AHY), menyampaikan pidato kunci dalam forum internasional Southeast Asia Summit for Prosperity and Sustainability yang digelar di Universitas Stanford, Selasa (20/05/2025) waktu setempat.

Dalam pidatonya, Menko AHY menyatakan bahwa Indonesia, sebagai negara demokrasi terbesar keempat di dunia dan jembatan strategis antara Asia, Afrika, dan Pasifik, siap mengambil peran penting dalam membentuk masa depan pembangunan global yang berkelanjutan dan adil.

“Indonesia siap membentuk agenda pembangunan yang tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga adil,” ujar AHY di hadapan para akademisi, pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, dan organisasi pembangunan internasional.

Baca Juga  HPN 2027 di Lampung, PWI Tegaskan Inklusif dan Kolaboratif

Menko AHY menyampaikan tiga hal penting yang menjadi fokus masa depan Asia Tenggara, yakni: mengintegrasikan keberlanjutan dengan kemakmuran, menghubungkan inovasi global dengan aksi lokal, serta memperkuat kerja sama regional dengan menjadikan ASEAN sebagai pusatnya.

“Asia Tenggara bukan lagi sekadar wilayah yang merespons perubahan global, tetapi kini menjadi kekuatan yang mendorongnya,” tegas AHY. Ia menyebutkan bahwa dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan kelas menengah yang terus berkembang, Asia Tenggara memiliki peluang besar untuk memimpin transformasi global.

Dalam konteks Indonesia, Menko AHY menyoroti berbagai langkah konkret yang tengah dilakukan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, antara lain: penguatan ketahanan pangan dan air, percepatan penggunaan energi terbarukan seperti panas bumi dan waste-to-energy, serta pembangunan infrastruktur tahan iklim yang responsif terhadap urbanisasi dan perubahan iklim.

Baca Juga  Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Lampung, Lesty Putri Utami, Kunjungi Korban Banjir di Bandar Lampung

“Transisi hijau harus menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik, bukan sekadar target teknokratis. Solusi harus pragmatis, adil, dan menyentuh kebutuhan riil masyarakat,” tegasnya.

AHY juga mengingatkan pentingnya kolaborasi antara teknologi global dan kebutuhan lokal. “Teknologi harus dirancang bersama komunitas, bukan hanya dibawa dari luar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Menko AHY mendorong ASEAN agar bertransformasi dari sekadar forum konsensus menjadi platform pemecahan masalah konkret. Ia juga mengajak Amerika Serikat sebagai mitra strategis untuk berperan aktif dalam proyek infrastruktur berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.

Dalam penutup pidatonya, AHY mengapresiasi Stanford University sebagai pusat inovasi dunia yang mampu menjembatani riset dan kebijakan, serta mendorong kerja sama lebih erat antara Asia Tenggara dan dunia.

Baca Juga  Pemprov Lampung, Kementan, dan PLN Bersinergi Wujudkan Pertanian Modern Berbasis Teknologi dan Energi

Forum prestisius ini turut dihadiri oleh Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono, Peneliti Tamu Precourt Institute Gita Wirjawan, Direktur Hoover Institution Dr. Condoleezza Rice, serta Dekan Stanford Doerr School of Sustainability Dr. Arun Majumdar.(Rls)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan