Ditengah derasnya arus modernisasi dan kecanggihan teknologi yang membuat semua bahasa masuk ke semua kalangan mmasyarakat, tetapi Lampung mencoba berhenti sejenak.

Pemerintah Provinsi Lampung melalui kebijakan Kamis Beradat seakan mengajak kita menoleh ke belakang, bukan untuk mundur, melainkan untuk mengingat siapa kita sebenarnya.

Bahasa daerah dan batik bukan sekadar alat komunikasi dan busana. Keduanya adalah warisan nilai dan simbol keberlanjutan budaya.

Ketika bahasa Lampung mulai jarang terdengar di ruang publik, dan batik hanya dikenakan saat seremoni, maka sesungguhnya ada jarak antara generasi hari ini dan budaya nya sendiri.

Kamis Beradat hadir sebagai jeda. Satu hari dalam sepekan, Pemprov Lampung meminta warganya untuk kembali menampilkan identitas lokal. Ini bukan sekadar soal kewajiban berpakaian atau pilihan bahasa, melainkan upaya membangun kesadaran, bahwa menjadi modern tidak harus berarti selalu tergabung dari tradisi.

Baca Juga  Mukhlis Basri All Out Dukung HPN-Porwanas 2027

Bahasa daerah itu hidup di semua kalangan dan sampai nanti karena ada yang merawat dan mengingatkan. Peran pemerintah dan orang tua lah yang selalu menginginkan generasi muda dan anak anak bahwa Lampung mempunyai bahasa yang hanya ada di daerah nya sendiri.

Namun yang terpenting, Kamis Beradat jangan berhenti sebagai seremoni rutin. Ia harus disertai substansi. pelatihan bahasa daerah, penguatan muatan lokal, hingga ruang kreatif bagi generasi muda untuk menafsirkan budaya Lampung dengan cara mereka ssendiri. (Herwanda Pratama)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan