LAMPUNG TIMUR — Di sebuah rumah produksi sederhana di Desa Sribhawono, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur, para petani tidak hanya belajar tentang pupuk. Mereka sedang belajar tentang satu hal yang lebih penting: bagaimana memenuhi kebutuhan pertanian dengan kemampuan sendiri.
Hal itu terlihat saat Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengunjungi Rumah Produksi Pupuk Hayati Cair (PHC) Gapoktan Sri Maju, Kamis (24/9/2026).
Di tempat tersebut, Mirza berdialog langsung dengan petani dan penyuluh mengenai pengalaman menggunakan PHC untuk tanaman singkong dan jagung.
Seorang petani menceritakan, tanaman singkong berusia sekitar lima bulan di lahannya tumbuh cukup baik. Kondisi itu menjadi perhatian karena di sejumlah lahan lain, tanaman singkong mengalami kerontokan daun.
Penggunaan PHC dilakukan dengan cara pengocoran dan dosis yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
Mirza mengingatkan agar pupuk hayati digunakan secara tepat. Menurutnya, penggunaan tidak harus dalam jumlah banyak, tetapi dilakukan secara rutin dan sesuai kebutuhan.
“Lebih baik sering daripada terlalu banyak,” ujar Mirza.
Dalam perbincangan itu, pengalaman petani dari daerah lain turut menjadi bahan pembelajaran. Produktivitas singkong di Tulang Bawang, misalnya, disebut meningkat dari sekitar 25 ton menjadi 33 ton sekali panen setelah menggunakan PHC. Pada tanaman jagung, hasil yang sebelumnya sekitar 7 ton disebut meningkat menjadi sekitar 9 ton.
Namun bagi Mirza, angka produksi bukan satu-satunya hal yang penting. Pengalaman tersebut perlu terus dipelajari, disesuaikan dengan kondisi lahan, dan didampingi penyuluh agar petani tidak sekadar mengikuti sebuah metode tanpa memahami cara penggunaannya.
Dari dialog itu kemudian muncul harapan yang lebih besar dari kelompok tani.
Ketua Gapoktan Sri Maju berharap petani dapat memperoleh akses terhadap biang PHC. Bukan untuk mendapatkan secara cuma-cuma, tetapi agar kelompok tani memiliki kesempatan mempelajari dan mengembangkan sendiri pupuk hayati tersebut.
Harapan itu mendapat respons dari Mirza.
Ia menyatakan akses terhadap biang PHC dapat dibuka. Namun, kemampuan membuat biang secara mandiri menurutnya membutuhkan proses dan pengalaman.
“Kalau sekarang beli, bisa. Kalau buatnya, nanti dua tahun lagi baru saya ajarin,” kata Mirza.
Pernyataan tersebut menggambarkan pendekatan yang ingin dibangun Pemprov Lampung: petani tidak selamanya menjadi pengguna, tetapi secara bertahap memiliki kemampuan untuk memproduksi sendiri.
Mirza juga menyampaikan rencana agar ke depan tersedia tempat pembuatan biang PHC di setiap kabupaten.
Petani akan terlebih dahulu dibiasakan menggunakan PHC dan memahami prosesnya. Setelah memiliki pengalaman yang cukup, barulah kemampuan memproduksi biang dikembangkan.
Kehati-hatian menjadi alasan penting dalam proses tersebut. Kualitas biang sangat menentukan hasil pupuk hayati, sehingga kesalahan dalam pembuatannya berpotensi berdampak pada tanaman dalam skala luas.
Program PHC di Lampung sendiri terus diperluas. Pada 2026 tercatat 804 lokus penerapan. Jika dihitung sejak 2025, jumlahnya mencapai 1.304 lokus yang tersebar di 1.238 desa se-Lampung.
Pemprov Lampung menargetkan penerapan PHC mencapai 2.000 lokus hingga akhir 2026.
Khusus Lampung Timur, pada 2026 PHC telah diterapkan di 86 lokus. Secara kumulatif sejak 2025, penerapannya mencapai 169 lokus yang tersebar di 164 desa.(Red)





