Way Kanan — Polemik hukum yang membelit PT Pemuka Sakti Manis Indah (PSMI) kini berubah menjadi ancaman nyata bagi ratusan petani tebu mandiri di Way Kanan. Penundaan panen dan giling tak hanya soal teknis, tetapi menjadi bukti betapa lambannya kepastian hukum bisa menghantam langsung ekonomi rakyat kecil.
Aliansi Triga Lampung yang terdiri dari DPP Akar, Pematank, dan Keramat mendesak aparat penegak hukum, khususnya Kejaksaan Tinggi Lampung, agar segera membuka kejelasan status hukum perusahaan. Ketidakpastian ini dinilai menjadi akar masalah terhentinya operasional pabrik yang selama ini menjadi tumpuan petani.
“Kalau salah, tindak. Kalau tidak, buka. Jangan gantung nasib petani,” tegas Ketua DPP Akar Lampung, Indra Musta’in.
Sorotan juga mengarah pada dana titipan Rp100 miliar yang kini berada di Kejati Lampung. Transparansi dinilai krusial agar tidak memicu spekulasi liar di tengah masyarakat yang sudah dirugikan.
Di sisi lain, tudingan pelanggaran serius ikut mencuat. PT PSMI disebut menggarap sekitar 14 ribu hektare lahan di kawasan Register 44 tanpa izin resmi. Dugaan ini membuka potensi kerugian negara hingga puluhan miliar rupiah serta indikasi praktik mafia tanah.
Namun di balik tarik-menarik hukum itu, petani menjadi pihak paling terpukul. Tebu yang seharusnya ditebang sejak awal April kini terancam kehilangan kualitas akibat penurunan rendemen.
“Kami bisa rugi total. Tebu kami sudah siap panen, tapi tidak ada kepastian,” ujar Sartono, petani tebu.
Dampaknya meluas. Ribuan pekerja tebang dan angkut yang didatangkan dari Pulau Jawa kini menganggur tanpa kepastian kerja, meski sebagian telah menerima uang muka.
Situasi ini mendorong Aliansi Darurat Petani Tebu Mandiri bersiap turun ke jalan. Aksi damai dijadwalkan digelar pada 9 April di Kantor Kejati Lampung, menuntut solusi konkret tanpa harus mematikan roda ekonomi rakyat.
“Kami hormati hukum, tapi jangan bunuh petani,” kata Edi, koordinator aksi.
Kini, publik menanti langkah tegas aparat: menuntaskan proses hukum tanpa mengorbankan ribuan petani yang menggantungkan hidup pada tebu yang kian hari kian kehilangan nilai.(Red)






