BANDAR LAMPUNG — Musim kemarau tak hanya membuat udara terasa lebih panas. Di sejumlah sudut Kota Bandarlampung, lahan kosong dan perbukitan yang mengering berubah menjadi titik rawan kebakaran.
Sepanjang Agustus 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Bandarlampung mencatat 38 kejadian kebakaran lahan. Luas area yang terbakar secara akumulatif diperkirakan mencapai sekitar tiga hektare.
Kepala Damkarmat Kota Bandarlampung Anthony Irawan mengatakan, lahan yang terbakar mayoritas merupakan lahan kosong milik masyarakat serta kawasan perbukitan yang dipenuhi ilalang dan tanaman kering.
“Lahan yang terbakar umumnya berupa lahan kosong milik masyarakat serta kawasan perbukitan yang didominasi ilalang dan tanaman kering,” ujar Anthony di Mako Tandean, Rabu (2/9/2026).
Kecamatan Telukbetung Timur menjadi wilayah dengan kejadian kebakaran lahan terbanyak, yakni tujuh kasus. Kemiling menyusul dengan enam kejadian.
Sementara Sukabumi, Tanjungkarang Barat, dan Telukbetung Barat masing-masing mencatat tiga kejadian.
Kemudian Rajabasa, Sukarame, Telukbetung Selatan, dan Wayhalim masing-masing dua kejadian. Delapan kecamatan lainnya masing-masing mencatat satu kejadian, yakni Bumi Waras, Enggal, Kedamaian, Labuhan Ratu, Langkapura, Panjang, Tanjungkarang Timur, dan Telukbetung Utara.
Sedangkan Kedaton, Tanjungkarang Pusat, dan Tanjungsenang tercatat nihil kebakaran lahan selama Agustus.
Di balik angka tersebut, sebagian besar kebakaran diduga bermula dari aktivitas sederhana yang sebenarnya bisa dicegah. Salah satunya adalah kebiasaan membakar sampah kemudian meninggalkan api tanpa pengawasan.
“Mayoritas kebakaran diduga dipicu oleh aktivitas warga, terutama pembakaran sampah yang tidak diawasi hingga ditinggalkan begitu saja. Selain itu, terdapat pula dugaan kebakaran yang disebabkan oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan,” kata Anthony.
Kondisi lahan yang kering ditambah angin membuat api lebih mudah menjalar. Kobaran yang awalnya kecil dapat dengan cepat merambat ke ilalang, semak maupun lahan di sekitarnya.
Situasi ini menjadi perhatian karena kebakaran lahan tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kenyamanan warga yang tinggal di sekitar lokasi. Asap yang muncul juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.
Anthony mengingatkan warga untuk tidak menganggap remeh api, sekecil apa pun. Terlebih saat memasuki puncak musim kemarau ketika tanaman dan rerumputan lebih mudah terbakar.
Pemkot Bandarlampung juga mengimbau masyarakat tidak membakar sampah secara mandiri. Warga diminta memanfaatkan layanan petugas kebersihan yang telah disediakan pemerintah.
“Sesuai arahan Wali Kota Bandarlampung, Eva Dwiana, masyarakat diminta memanfaatkan petugas kebersihan yang telah disediakan pemerintah untuk menangani sampah, sehingga tidak perlu melakukan pembakaran sampah secara mandiri yang berisiko menimbulkan kebakaran,” tandas Anthony.
Bagi warga, mencegah kebakaran sejatinya tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Memastikan api benar-benar padam, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan tidak membakar sampah di lahan kering menjadi langkah sederhana yang dapat menyelamatkan lingkungan dan rumah-rumah di sekitarnya.
Di tengah kemarau, kewaspadaan menjadi urusan bersama. Sebab, satu api yang ditinggalkan dapat berubah menjadi kobaran yang menyulitkan banyak orang.(Suf)






