Lampung Timur – Harapan menjaga kelestarian hutan ternyata tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Di Lampung Timur, langkah itu justru dimulai dari tangan-tangan para petani yang setiap hari menggantungkan hidup pada alam.
Semangat tersebut mewarnai peluncuran Program Inisiasi Regeneratif MUK Restorasi Lanskap Perhutanan Sosial di Desa Sri Josari, Kecamatan Way Jepara, Rabu (15/7/2026). Program hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi Lampung, PT Olam Indonesia (OFI), serta berbagai pemangku kepentingan ini mengusung konsep sederhana namun berdampak besar, yakni menjaga hutan sambil meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Peluncuran program dibuka oleh Plt Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Sulpakar. Momen itu ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama dan penanaman bambu di bantaran Sungai Way Abar yang bermuara ke Danau Way Jepara sebagai simbol dimulainya upaya memulihkan lanskap hutan.
Bagi OFI, kawasan Register 38 Gunung Balak memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui sistem agroforestri. Head of Cocoa Sustainability Indonesia, Imam Suharto, menjelaskan program tersebut tidak hanya berfokus pada penghijauan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi petani melalui budidaya kakao dan alpukat.
“Tahun 2026 menjadi tahap perencanaan. Pada 2027 kami memulai proyek percontohan untuk 5.000 petani dari total 18 ribu petani sasaran. Program akan diperluas secara bertahap hingga 2030 dan ditargetkan berlanjut sampai 2040,” ujarnya.
Menurut Imam, pendekatan agroforestri memungkinkan masyarakat tetap memperoleh penghasilan tanpa harus merusak kawasan hutan. Para petani juga akan mendapat pendampingan agar hasil panennya memenuhi standar pasar global.
Sulpakar menegaskan, keberhasilan program bergantung pada komitmen semua pihak, terutama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang akan mendampingi kelompok tani secara langsung.
“Kami ingin program ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hutan tetap lestari, sementara petani memperoleh penghasilan yang lebih baik dari komoditas yang dikembangkan,” katanya.
Ia mengingatkan, kerusakan hutan tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga menghilangkan sumber kehidupan masyarakat. Karena itu, keseimbangan antara pelestarian alam dan peningkatan ekonomi menjadi kunci keberhasilan program.
Sementara itu, Landscape Expert OFI UK, Dr. Christopher Steward, menilai Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa dengan ribuan spesies tanaman yang dapat dikembangkan untuk mendukung konservasi.
Menurutnya, kebutuhan dunia terhadap kakao dan komoditas rempah harus dipenuhi melalui praktik pertanian yang ramah lingkungan.
“Kami ingin membantu petani meningkatkan produksi tanpa merusak hutan. Jika dilakukan secara konsisten, pendekatan ini juga berpotensi menurunkan emisi karbon dioksida hingga sekitar 30 persen,” ujarnya.
Program Restorasi Lanskap Perhutanan Sosial ini diharapkan menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi bagi dua tantangan sekaligus, yakni menjaga hutan tetap hijau dan memastikan petani memiliki masa depan ekonomi yang lebih baik. Di Lampung Timur, langkah kecil dari para petani hari ini diharapkan menjadi awal lahirnya hutan yang lebih lestari untuk generasi mendatang.(**)





