BANDAR LAMPUNG — Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba sistem pendistribusian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan pola prasmanan di empat sekolah di Provinsi Lampung. Uji coba tahap kedua ini berlangsung pada 26 Oktober hingga 6 November 2026.

Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) MBG/SPPG Lampung, Saipul, mengatakan empat lokasi tersebut telah ditunjuk BGN Pusat. Penentuan lokasi diduga mempertimbangkan kesiapan dapur penyedia makanan dan pihak sekolah.

Keempat lokasi itu tersebar di tiga kabupaten, yakni SPPG Muhammadiyah Muara Putih 2 di Natar, Lampung Selatan; SPPG Lampung Utara; serta SPPG Talang Padang Talang Sepuh dan SPPG Pugung Sumanda di Kabupaten Tanggamus.

“Pada 26 Oktober, uji coba prasmanan mulai dilaksanakan di Lampung. Empat sekolah ini sudah ditunjuk BGN Pusat. Kemungkinan karena dapur MBG tersebut siap,” kata Saipul, Rabu (28/10).

Baca Juga  Mencari Nafas Baru untuk PAD Lampung

Ia menjelaskan, sistem prasmanan berbeda dari pola sebelumnya yang mendistribusikan makanan menggunakan wadah atau ompreng kepada masing-masing siswa. Dalam skema baru ini, siswa mengambil makanan secara langsung dari hidangan yang telah disediakan.

Menurut Saipul, sistem tersebut memberikan keleluasaan kepada siswa untuk memilih menu yang tersedia. Selain itu, penggunaan peralatan penghangat dinilai dapat membantu menjaga suhu makanan sebelum dikonsumsi.

Meski demikian, porsi makanan tetap harus mengikuti standar yang ditetapkan. Setelah seluruh siswa mendapatkan porsi awal, makanan tambahan disiapkan bagi siswa yang masih membutuhkan.

“Porsi awal tetap harus ditakar sesuai standar. Setelah semua siswa mendapatkan bagiannya, disiapkan pula makanan tambahan untuk siswa yang masih membutuhkan,” ujarnya.

Baca Juga  Demi Warga Tetap Aman, 30 Tangki Damkar Semprot Jalan Bandar Lampung

Penerapan sistem prasmanan tidak dapat dilakukan secara serentak di seluruh daerah. Kesiapan dapur penyedia makanan, fasilitas sekolah, serta tenaga pelaksana menjadi faktor yang harus diperhatikan.

Karena itu, BGN menerapkan skema tersebut secara bertahap melalui proses pendaftaran, pelatihan, dan evaluasi. Hasil uji coba selama dua pekan di Lampung akan menjadi bahan pertimbangan untuk pelaksanaan MBG ke depan.

Saipul mengatakan, sistem prasmanan tidak hanya mengubah mekanisme pembagian makanan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi siswa. Mereka diajarkan membiasakan diri mengantre, mencuci tangan, berbagi, dan mengambil makanan sesuai kebutuhan agar tidak terbuang.

Dalam pelaksanaannya, guru dan petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) turut mengawasi proses pengambilan makanan untuk memastikan kegiatan berjalan tertib.

Baca Juga  Edward Rasyid Usulkan Samsat Kecamatan untuk Permudah Akses Pajak Warga Lampung

Saipul mengakui, pembagian makanan dengan sistem prasmanan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan pembagian langsung kepada masing-masing siswa. Namun, berdasarkan pengamatan awal, selisih waktu pelaksanaannya dinilai tidak terlalu signifikan.

“Ini masih menjadi bahan evaluasi, meskipun perbedaan waktunya sebenarnya tidak begitu signifikan dengan proses MBG yang dibagikan secara langsung,” katanya.

Ia berharap uji coba tahap kedua tersebut dapat memberikan hasil optimal, sekaligus menjadi dasar evaluasi untuk menyempurnakan pola distribusi MBG agar semakin baik dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah.(Red)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan