Oleh: Sandika Wijaya

 

Pagi itu, Ranau seperti menahan napas sejenak.
Kabut tipis menggantung di atas perbukitan, menyapu perlahan tepian Danau Ranau yang tenang. Udara dingin masih terasa, namun jalan-jalan desa justru mulai ramai. Dari berbagai arah, orang-orang berjalan, berboncengan, hingga beriringan dalam mobil, menuju satu tempat yang sama.
Hari itu adalah Idul Fitri.
Namun di Ranau, Lebaran selalu lebih dari sekadar hari raya.


Ia adalah tentang pulang—dan dipeluk kebersamaan.
Sejak malam sebelumnya, suasana sudah hidup.

Takbir berkumandang dari satu desa ke desa lain, bersahutan tanpa henti. Dari Pagar Dewa, gema itu menjalar ke Tanjung Jati, Kota Batu, hingga Sukajaya. Empat kampung yang selama ini terpisah secara geografis, malam itu seperti menyatu dalam satu irama.
Warga keluar rumah, membawa keluarga, menaiki sepeda motor dan mobil. Mereka berkeliling, menyusuri jalan yang menghubungkan empat desa itu. Lampu kendaraan berpendar di kegelapan, seperti aliran cahaya yang bergerak bersama.

Di langit, kembang api sesekali meletup, memantulkan warna di permukaan danau. Di jalanan, suara knalpot anak-anak muda bercampur dengan takbir yang tak putus-putus.
Riuh, tapi hangat.
Ramai, tapi terasa dekat.
Takbiran di Ranau bukan sekadar tradisi. Ia seperti panggilan: bahwa esok hari, semua akan berkumpul, tanpa sekat.
Pagi Idul Fitri, panggilan itu benar-benar terjawab.

Baca Juga  Wisata Rohani, Pejabatnya Hedon

Sejak subuh, arus manusia bergerak menuju Desa Pagar Dewa tuan rumah tahun ini. Dari Tanjung Jati, Kota Batu, dan Sukajaya, warga datang berbondong-bondong. Ada yang berjalan kaki, ada yang berboncengan, ada pula yang membawa seluruh keluarga dalam satu kendaraan.

Semua menuju satu titik: Masjid Darussolihin.
Tak lama, masjid itu pun penuh.
Saf-saf salat meluber hingga ke halaman, merambat ke pelataran, bahkan sampai ke badan jalan. Ribuan orang berdiri sejajar, bahu membahu, dalam satu arah yang sama.

Tak ada lagi batas desa.
Tak ada lagi jarak.
Di hadapan Tuhan, semua menjadi satu.
Dan di momen itu, kebersamaan bukan lagi sekadar kata—ia menjadi nyata.
Bagi warga Pagar Dewa, menjadi tuan rumah adalah kehormatan.
Mereka menyebutnya “Lebaran besar”.

Baca Juga  Penunjuk Jalan Dapur MBG dan Koncoisme

Sejak jauh hari, persiapan telah dilakukan. Rumah-rumah dibersihkan, halaman dirapikan, dan dapur-dapur mulai hidup sejak dini hari. Aroma opor, gulai, rendang, hingga sup hangat menguar dari setiap sudut kampung.
Kue-kue Lebaran tersusun rapi di meja, menunggu tamu yang akan datang tanpa henti.

Dan benar saja, selepas salat Id, pintu-pintu rumah terbuka lebar.
Warga dari tiga desa lainnya datang silih berganti. Mereka bersalaman, berpelukan, duduk bersama, dan makan dalam suasana yang hangat. Percakapan mengalir ringan, tawa pecah tanpa canggung.

Tak ada yang merasa asing.
Karena di sini, semua adalah keluarga.
Bagi para perantau, momen ini adalah alasan untuk pulang.

Dari kota-kota jauh, mereka kembali, menempuh perjalanan panjang hanya untuk bisa berada di tengah tradisi ini. Bagi mereka, Lebaran di Ranau bukan sekadar berkumpul dengan keluarga inti, tetapi juga menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
“Lebaran terasa berbeda kalau tidak pulang.”

Baca Juga  Disdikbud Menjemput Ingatan di Rumah Daswati

Kalimat itu bukan sekadar ucapan. Ia adalah perasaan yang tumbuh dari pengalaman, dari kenangan yang terus hidup.
Di Ranau, pulang selalu punya arti.
Ada pula berkah lain yang datang dari kebersamaan itu.
Dari ribuan jamaah yang berkumpul, infak yang terkumpul mencapai ratusan juta rupiah. Tahun ini, jumlahnya sekitar Rp259 juta. Dana tersebut menjadi penopang pembangunan dan perawatan masjid tuan rumah.

Tradisi ini, diam-diam, juga menghidupkan gotong royong dalam bentuk yang nyata.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan sering kali membuat manusia saling menjauh, Ranau justru menunjukkan hal sebaliknya.
Bahwa kebersamaan masih bisa dijaga.
Bahwa tradisi masih bisa hidup.
Bahwa manusia tetap bisa saling mendekat.

Dari gema takbir yang berkeliling kampung, hingga saf salat yang memanjang tanpa putus, semuanya menyampaikan pesan yang sederhana:
Bahwa kebersamaan adalah kekuatan.
Dan di Ranau, setiap Lebaran, kekuatan itu selalu dipeluk kembali.

Tabik.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan