BANDAR LAMPUNG – Pergantian kepemimpinan di Universitas Lampung (Unila) bukan sekadar tentang siapa yang akan menduduki kursi rektor. Lebih dari itu, ada harapan ribuan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan masyarakat agar kampus kebanggaan Lampung tersebut terus tumbuh menjadi pusat pendidikan yang unggul dan mampu menjawab tantangan zaman.
Harapan itu mengiringi proses pemilihan Rektor Unila periode 2027–2031. Melalui rapat senat pada Rabu, 14 Oktober 2026, enam nama resmi ditetapkan sebagai calon rektor yang akan mengikuti tahapan pemilihan berikutnya.
Mereka adalah Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D.; Dr. Budiyono, S.H., M.H.; Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, S.Ked., M.Kes.; Prof. Dr. Rudy, S.H., LL.M., LL.D.; Prof. Dr. Anna Gustina Zainal, S.Sos., M.Si.; serta Prof. Dr. Hamzah, S.H., M.H., PIA.
Tahapan selanjutnya dijadwalkan berlangsung pada Senin, 19 Oktober 2026, pukul 08.30 WIB di Gedung Rektorat Lantai II. Dalam agenda tersebut, senat akan menggelar pengundian nomor urut calon rektor.
Ketua Tim Supporting Panitia Pemilihan Rektor Unila periode 2027–2031, Prof. Dr. Muhammad Akib, S.H., M.Hum., menyampaikan bahwa pengundian nomor urut menjadi bagian dari rangkaian proses pemilihan pimpinan universitas untuk empat tahun mendatang.
Namun, di balik tahapan administratif itu, pemilihan rektor menyimpan persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana memastikan Unila terus berkembang tanpa kehilangan tanggung jawab utamanya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Rektor Unila periode 2023–2027, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., sebelumnya menyambut positif banyaknya pihak yang berpartisipasi dalam penjaringan calon pemimpin kampus tersebut.
Baginya, banyaknya pilihan menjadi salah satu tanda bahwa demokrasi di lingkungan perguruan tinggi berjalan.
“Berarti demokrasi berjalan. Semakin ramai dan banyak pilihan untuk yang terbaik,” ujarnya pada 3 September 2026.
Lusmeilia berharap siapa pun yang terpilih nantinya dapat melanjutkan dan menyempurnakan program Unila Be-Strong, sebuah upaya untuk membangun kampus yang lebih kuat, unggul, dan berdaya saing.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Selama tiga tahun terakhir, Unila mencatat sejumlah perkembangan, terutama dalam peningkatan akreditasi program studi, perluasan akreditasi internasional, serta peningkatan jumlah mahasiswa yang menyelesaikan kuliah tepat waktu.
Menurut data yang dipaparkan Lusmeilia, dari total 128 program studi, jumlah program studi berakreditasi unggul meningkat dari sembilan menjadi 65. Sementara itu, jumlah program studi dengan akreditasi internasional bertambah dari satu menjadi 23.
Persentase mahasiswa yang menyelesaikan studi tepat waktu juga meningkat dari 22 persen menjadi 65 persen. Di sisi lain, pendapatan universitas di luar Uang Kuliah Tunggal (UKT) disebut naik dari di bawah lima persen menjadi sekitar 13 persen.
Capaian tersebut menjadi modal penting bagi kepemimpinan berikutnya. Meski demikian, tantangan untuk mempertahankannya tentu tidak ringan.
Lusmeilia juga menyoroti perlunya peningkatan kinerja dosen serta penguatan budaya kerja di lingkungan kampus. Menurutnya, perubahan membutuhkan proses, konsistensi, dan dukungan dari seluruh sivitas akademika.
Selain menjaga kualitas pendidikan, pembangunan Rumah Sakit Pendidikan Unila menjadi salah satu pekerjaan penting yang diharapkan dapat diteruskan hingga tuntas dan beroperasi sesuai target.
Bagi masyarakat, keberadaan rumah sakit pendidikan bukan semata pembangunan infrastruktur. Fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat pendidikan kedokteran, mendukung penelitian, sekaligus memperluas akses pelayanan kesehatan.
Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih sebagai rektor akan menghadapi tanggung jawab yang sama: menjaga kepercayaan publik, meningkatkan mutu pendidikan, dan memastikan kemajuan kampus dapat dirasakan secara nyata.
Mahasiswa membutuhkan pendidikan berkualitas dan kesempatan menyelesaikan studi tepat waktu. Dosen membutuhkan lingkungan akademik yang mendukung penelitian serta pengembangan ilmu pengetahuan. Masyarakat pun berharap Unila hadir sebagai sumber gagasan, inovasi, dan solusi bagi persoalan daerah.
Karena itu, pemilihan rektor bukan sekadar persaingan enam nama. Proses ini menjadi momentum untuk menentukan arah perjalanan Unila dalam empat tahun mendatang.(**)





