Bandar Lampung -Rabu sore suasana Pasar Jatimulyo di Lampung Selatan mendadak berbeda. Di sela hiruk-pikuk pedagang yang menawarkan cabai dan sayuran segar, sosok Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal terlihat berjalan santai menyusuri lapak-lapak. Bukan sekadar kunjungan seremonial, ia datang membawa dua hal belanjaan dan sidak.

Di tangan kirinya , kantong berisi bayam, kangkung, daun singkong, daun pepaya, selada, sawi, tempe, hingga kurma. Di tangan kanannya, ia menyapa satu per satu pedagang yang tersenyum sumringah.

“Ini siap mau tempe, kita bagi-bagi. Ada kurma juga buat buka puasa,” ucapnya ringan, disambut tawa kecil warga dan jurnalis dari Pemprov Lampung yang mengerubungi.

Aksi memborong dagangan itu bukan hanya soal berbagi takjil. Di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, langkah spontan tersebut menjadi suntikan semangat bagi pedagang kecil agar dagangannya tetap berputar. Beberapa ibu pedagang bahkan tak segan mengabadikan momen itu dengan ponsel sederhana mereka.

Baca Juga  Kwarcab Pesawaran Salurkan Rp89,9 Juta Dana Bumbung Kemanusiaan ke Kwarda Lampung

“Pak foto bareng dong,”kata pedagang sayur tersebut

Namun, ngabuburit sore itu tak berhenti pada cerita sayur dan kurma.
Di sela pembagian bahan pangan, gubernur menengok sisi lain pasar: saluran air yang tak lagi berfungsi optimal. Ia menunjuk gorong-gorong yang tertutup pengecoran, memperhatikan jalan yang menyempit akibat bangunan dan lapak yang maju ke badan jalan.

“Drainasenya tidak jalan. Jalan yang harusnya lebar jadi sempit,” katanya, kali ini dengan nada lebih serius.

Masalah genangan air di kawasan ini memang bukan cerita baru. Setiap hujan turun, air kerap meluap ke badan jalan, memicu kemacetan panjang dan mempercepat kerusakan aspal. Pasar yang seharusnya menjadi pusat denyut ekonomi justru berubah menjadi titik simpul kemacetan.

Baca Juga  Pemerintah Provinsi Lampung Terus Berupaya Menciptakan Keseimbangan dan Keadilan Bagi Buruh

Sebelum ke pasar, langkahnya memang sudah ke ruas Simpang Korpri–Sukadamai. Sepanjang 23 kilometer jalan itu, Unit Reaksi Cepat (URC) tengah bekerja menambal lubang-lubang yang menganga. Menjelang arus mudik Lebaran, akses jalan menjadi perhatian serius.

“Kalau hujan, di sini selalu tergenang. Lalu lintasnya ramai, macet panjang,” ujarnya sambil menatap kendaraan yang melintas perlahan.

Pemerintah Provinsi Lampung pun merencanakan normalisasi gorong-gorong tahun depan, mengembalikan fungsi saluran air agar tak lagi meluap ke jalan.
Ia juga mengajak pedagang dan pemilik ruko untuk bersama-sama menata ulang bangunan.

Menurutnya, persoalan ini tak bisa diselesaikan sepihak. Ada tanggung jawab kolektif untuk menjaga ruang publik.

Di Pasar Jatimulyo itu, ngabuburit menjadi lebih dari sekadar menunggu waktu berbuka. Ia menjelma menjadi ruang dialog, tempat sayuran diborong, drainase ditinjau, dan harapan warga disapa secara langsung.(Herwanda Pratama)

Baca Juga  Kasus Ancaman Wartawan Naik Level, STTLP Resmi Terbit

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan