Table of contents: [Hide] [Show]

    JAKARTA — Di balik hamparan perkebunan kelapa sawit, ada limbah yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari proses produksi. Namun, PTPN IV PalmCo memilih melihatnya dari sudut berbeda: bukan sekadar sisa, melainkan sumber energi.

    Melalui pemanfaatan limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME), PTPN IV PalmCo terus mempercepat langkah dekarbonisasi sekaligus mengembangkan energi baru terbarukan.

    Langkah tersebut mendapat apresiasi Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat saat berada di PTPN IV Regional III, Pekanbaru, Riau, Jumat (21/8/2026).

    “Saya harus endorse kebaikan-kebaikan yang dilakukan PTPN IV PalmCo. Jadi dunia saat ini sangat menghargai mereka yang mau menghilangkan emisi gas rumah kaca, seperti yang dilakukan PalmCo,” kata Jumhur.

    Baca Juga  Tahun 2025, Pemkot Bandar Lampung Anggarkan Rp 165 Miliar untuk Perbaiki Fasilitas Masyarakat

    Saat ini PTPN IV PalmCo telah mengelola 12 fasilitas methane capture dan energi baru terbarukan di sejumlah wilayah operasional. Gas metana dari limbah ditangkap untuk kemudian dimanfaatkan sebagai sumber energi.

    Energi yang dihasilkan digunakan untuk pembangkit listrik, co-firing, hingga dikembangkan menjadi compressed biomethane gas (CBG).

    Bagi PalmCo, langkah tersebut bukan hanya tentang mengurangi emisi. Ada cara pandang baru terhadap limbah yang sedang dibangun: sesuatu yang selama ini dianggap sebagai sisa ternyata masih dapat memberi manfaat.

    Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa mengatakan perusahaan terus mengembangkan pemanfaatan limbah sawit agar memberikan manfaat lingkungan sekaligus nilai tambah ekonomi.

    “Kami melihat limbah bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dikelola, tetapi juga sebagai sumber daya yang bisa memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan lingkungan,” ujar Jatmiko.

    Baca Juga  Pemprov Lampung Dukung Perayaan HUT ke-74 IBI dan Hari Bidan Internasional

    Langkah PalmCo kemudian diperluas melalui perdagangan karbon. Perusahaan tercatat sebagai perusahaan perkebunan pertama di Indonesia yang aktif dalam perdagangan karbon melalui bursa karbon IDXCarbon.

    Jumhur mendorong agar potensi tersebut terus diperbesar. Menurutnya, kerja sama dengan investor dapat membuka manfaat ekonomi yang lebih besar sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi.

    “PTPN juga bisa memperluas pemanfaatan carbon trading dengan bekerja sama dengan investor. Manfaat besar akan diterima PTPN, termasuk carbon offset-nya juga bisa didapat. Kita siap memfasilitasi,” ujarnya.

    Upaya tersebut juga dinilai penting untuk menjaga daya saing produk sawit Indonesia di pasar global. Produk dengan jejak lingkungan yang lebih baik, termasuk sustainable CPO, semakin mendapat perhatian.

    PTPN IV PalmCo menargetkan pengoperasian hingga 60 instalasi methane capture pada 2030. Fasilitas tersebut diperkirakan mampu menekan emisi perusahaan hingga 71 persen dibandingkan skenario business as usual.

    Target itu berada di atas sasaran pemerintah sebesar 30 persen pada periode yang sama.

    Baca Juga  Pemkot Bandar Lampung Gelar Operasi Pasar Murah, Wahana Raharja Siapkan 24 Ton Beras dan 8,4 Ton Minyak Goreng

    Jatmiko mengatakan pengoperasian PLTBG, PTBG co-firing, pemanfaatan CBG, dan perdagangan karbon merupakan bagian dari strategi perusahaan membangun bisnis perkebunan yang lebih berkelanjutan.

    “Ini wujud circular economy yang nyata. Mengolah limbah menjadi anugerah dan berkontribusi terhadap kemandirian energi negeri,” tutup Jatmiko.

    Bagi PTPN IV PalmCo, perjalanan menuju perkebunan yang lebih hijau bukan hanya soal mengejar angka penurunan emisi. Ia juga tentang mengubah cara melihat limbah—dari sesuatu yang harus ditinggalkan menjadi sumber daya yang dapat menghidupkan energi, menciptakan nilai, sekaligus menjaga lingkungan.(**)

    Tinggalkan Komentar

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Iklan