Ada penantian yang terlalu panjang untuk sekadar disebut sebagai kemenangan. Ada pula sebuah trofi yang ketika akhirnya terangkat, membawa serta ingatan tentang puluhan tahun berjuang untuk menuju kemenangan.
Malam itu, Senin (5/10/2026), penantian tersebut akhirnya berakhir.
Timnas Indonesia menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand melalui drama adu penalti dengan skor 4-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.
Kemenangan itu terasa berbeda. Bukan hanya karena Indonesia berhasil menaklukkan Thailand, tetapi karena gelar tersebut mengakhiri penantian panjang selama 35 tahun.
Pertandingan final sendiri berjalan melelahkan. Indonesia dan Thailand harus bermain hingga 120 menit dengan skor sama kuat 2-2. Tidak ada gol penentu hingga peluit akhir babak tambahan berbunyi.
Sebuah pertandingan yang sudah menguras tenaga akhirnya harus ditentukan dari adu pinalti.
Empat pemain Indonesia, Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama, menjalankan tugasnya dengan sempurna. Sementara dua eksekutor Thailand gagal menaklukkan kiper Indonesia, Emil Audero.
Indonesia menang 4-2, para pemain berlari, berpelukan, dan sebagian larut dalam haru. Di tribun, suara suporter pecah. Lautan manusia dengan kostum warna merah memenuhi stadion dalam sebuah perayaan yang selama bertahun-tahun mungkin hanya ada dalam impian.
Bagi sebagian pendukung Timnas, kemenangan itu bukan sekadar hasil dari 120 menit pertandingan dan beberapa tendangan penalti.Ada perjalanan panjang di belakangnya.
Dan ada generasi baru yang malam itu mungkin untuk pertama kalinya melihat Indonesia menjadi juara ASEAN Cup.
Trofi FIFA ASEAN Cup 2026 akhirnya berada di tangan Indonesia.
Gelar tersebut sekaligus menempatkan Indonesia sebagai negara pertama yang menjuarai FIFA ASEAN Cup.
Sepak bola memang hanya permainan. Tetapi bagi mereka yang mencintainya, sebuah kemenangan bisa menjadi kenangan yang dibawa seumur hidup.
Malam itu, setelah 35 tahun menunggu, Garuda akhirnya membawa pulang trofi.
(Herwanda Pratama)






