Membaca Pesan dari Erupsi Krakatau

BANDAR LAMPUNG — Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitasnya. Abu vulkanik menyebar, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, dan sejumlah aktivitas dibatasi demi keselamatan.
Di balik fenomena alam tersebut, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung Prof. KH Moh Mukri melihat pesan yang lebih dalam yakni manusia perlu kembali mengingat hubungannya dengan alam dan Sang Pencipta.

Mukri mengajak masyarakat tidak menyikapi erupsi dengan kepanikan berlebihan. Menurutnya, aktivitas gunung api justru dapat menjadi momentum untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
“Kita harus melihat memang tanda-tanda keberadaan Allah. Ternyata gunung-gunung ini aktif. Tidak usah terlalu ketakutan dan berlebihan menyikapinya. Ini karena Sang Pencipta. Semesta ada yang berkuasa,” kata Mukri, Selasa (08/09/2026).
Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar itu mengatakan, fenomena alam semestinya dapat mendorong manusia meningkatkan keimanan sekaligus melakukan introspeksi terhadap cara memperlakukan lingkungan.
Namun, tenang bukan berarti abai. Mukri mengingatkan masyarakat tetap memperhatikan aspek keselamatan, terutama terhadap paparan abu vulkanik yang dapat membahayakan kesehatan.
“Debunya mengandung bahan yang berbahaya bagi tubuh manusia, jadi perlu mengenakan masker. Kita tidak usah terlalu berlebihan ketakutan-ketakutan, tapi ini menjadi peringatan,” ujarnya.
Bagi Mukri, peringatan itu tidak berhenti pada persoalan erupsi. Ada persoalan yang lebih besar mengenai hubungan manusia dengan bumi.
Manusia, kata dia, selama ini memanfaatkan dan mengeksploitasi alam untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu, kewajiban berikutnya adalah menjaga dan merawat bumi agar tetap lestari.
“Bumi ini kita eksploitasi, kita juga harus menjaga dan merawat. Ada ukhuwah dengan sesama manusia, hubungan kita dengan Sang Pencipta. Bisa bersih dan terjaga,” katanya.
Ia melihat perlu ada keseimbangan dalam relasi antara manusia dan alam. Ketika hubungan tersebut tidak berjalan dengan baik, berbagai persoalan lingkungan dapat muncul dan pada akhirnya kembali berdampak kepada manusia.
Karena itu, erupsi Anak Krakatau menurut Mukri dapat dibaca bukan semata-mata sebagai fenomena alam yang menakutkan, tetapi juga sebagai pengingat agar manusia tidak merasa menjadi penguasa mutlak atas bumi.
Di tengah situasi tersebut, ia meminta masyarakat lebih berhati-hati dan mengikuti arahan pemerintah serta petugas terkait kawasan yang ditutup atau dibatasi.
“Masyarakat lebih hati-hati. Kita harus paham, kalau ditutup tidak lain untuk menjaga kebersamaan, untuk menjaga keselamatan,” tuturnya.
Erupsi mungkin merupakan gejala alam yang berada di luar kendali manusia. Tetapi cara manusia meresponsnya tetap berada dalam pilihan manusia: panik atau waspada, mengabaikan atau belajar, terus mengeksploitasi atau mulai merawat.
Bagi Mukri, Krakatau sedang mengingatkan manusia untuk kembali melihat hubungan antara dirinya, alam, dan Sang Pencipta.(Wanda)




